Jumat, 22 November 2013

PERAWAN DARI HUTAN LARANGAN

BAGIAN KE-ENAM

Sekar Kusumadewi memapah Ni Sari Ratna Gandulecapung yang terluka itu untuk duduk di ambin reyot yang ada didalam pondok dimana mereka berteduh dan terlibat pertempuran dengan Tan Shien Li yang ganas. Sekar Kusumadewi kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi butiran-butiran obat dan memberikannya kepada perempuan itu. Obat itu diminumkannya dengan air tadahan hujan dan membiarkan Ni Sari Ratna Gandulecapung bermeditasi untuk menekan luka dalamnya tersebut.

Sedangkan Sekar Kusumadewi sendiri merasakan pinggulnya ngilu dan bengkak itu hanya menambah montok pinggulnya sendiri . Dalam hati dia agak mengeluh dengan kepandaiannya yang masih jauh bila dibandingkan dengan Tan Shien Li maupun Cheng Yi Lin . Mengingat Cheng Yi Lin , wajah Sekar Kusumadewi sedikit gembira . Dia menyukai Cheng Yi Lin yang pendiam namun memancarkan kecantikan yang luar biasa , disamping ilmunya yang sangat hebat. Sekar tak lagi memperdulikan pinggulnya yang memar . Sekar tenggelam dalam keriuhan hujan yang kini meronai datangnya pintu senja .

Tak ada pembicaraan tentang perempuan tua yang membawa Cheng Yi Lin pergi itu dan mereka percaya bahwa keselamatan Cheng Yi Lin lebih terjamin dari pada bersama mereka. Entah mengapa , nama perempuan tua itu sangat mendebarkan hati mereka sekalipun tidak jelas dengan artinya. Itulah sebabnya mereka seperti sepakat untuk tidak membicarakan masalah itu disini.

Sepeminum teh kemudian, Ni Sari Ratna Gandulecapung tersadar dari meditasinya dan obat yang diberikan Sekar Kusumadewi itu sungguh mujarab. Rasa sakit yang mendesak didadanya itu sudah jauh berkurang.

" Terima kasih, Sekar...obatmu sangat mujarab, rasa sesak ini sudah jauh berkurang..." ujar Ni Sari Ratna dengan sungguh-sungguh dan menggenggam tangan Sekar dengan eratnya .

" Syukurlah . Engkau harus banyak istirahat dan ini sudah kubekalkan obat untuk dua hari kedepan..." angguk Sekar sambil menyerahkan sebotol kecil obat miliknya itu dengan tulus.

" Sekali lagi terima kasih , kawan..aku tak akan melupakan kebaikanmu.." sekali lagi Ni Sari Ratna sangat berterima kasih atas bantuan Sekar Kusumadewi sekalipun mereka baru saja berkenalan.

" Sudahlah, ini kewajiban seorang teman dalam perjalanan..." senyum Sekar mengemban, " kemana engkau akan melewati malam ini Ni Sari ? " tanyanya penuh selidik .

" Aku harus melanjutkan perjalananku menuju desa Kinahrejo, Sekar. Aku harus kesana karna kakak seperguruanku menunggu untuk sama-sama kembali ke riungan Kidul.." jelas Ni Sari Ratna Gandulecapung dengan serius .

" Oh, berarti arah kita berlawanan..Desa Kinahrejo tak begitu jauh lagi , mungkin kira-kira tiga jam perjalanan dan sebelum gelap engkau akan tiba disana.." angguk Sekar Kusumadewi sembari tersenyum .

" Engkau mau kemana Sekar ? " tanya Ni Sari Ratna sambil lalu dan mulai merapikan bawaannya sendiri.

" Aku harus kembali ke Limbarawa. Perjalananku kesana tidaklah selama engkau, lagi pula aku harus menemui salah satu keluargaku di desa magelang.." jawab Sekar Kusumadewi kemudian.

" Baiklah, kawan...Kita berpisah disini , kalau ada waktu berkunjunglah ke riungan Kidul. Terima kasih untuk bantuanmu , Sekar.." Ni Sari Ratna segera berpamit mengingat waktu terus mendekati senja dan dia tidak ingin mendapat dampratan dari kakak seperguruannya itu .

" Terima kasih juga , Ni Sari..Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti dan bila engkau lewat Limbarawa , carilah aku disana...carilah keluarga Cindhe. Gaharu Cindhe..." angguk Sekar Kusumadewi pula.

Lalu Ni Sari Ratna Gandulecapung segera berlari kecil menembus derasnya hujan dengan mengenakan sebuah caping yang terbuat dari tikar. 

Sekar Kusumadewi menarik napas lega dan sejenak membiarkan suara hujan mengalahkan segala suara yang mendesau dalam pikirannya. Namun segala rasa tenang itu segera menghilang dengan munculnya sebuah delman yang ditarik seekor kuda berbulu coklat yang besar. Sang kusir seorang lelaki bertampang kasar dengan blangkon hitam lurik menghiasi kepalanya dan sebuah kumis melintangi wajahnya. Namun dibalik semua kekasaran itu , sang kusir sangatlah menghormati Sekar Kusumadewi . Sang kusir turun dan mengembangkan sebuah payung kertas yang lebar agar Sekar Kusumadewi tidak basah oleh hujan. Dengan rasa enggan , Sekar terpaksa mengikuti kemauan sang kusir dan menaiki delman yang kelilingnya ditutupi tirai bambu agar hujan tidak tampias kedalam.

" Terima kasih mang Kasimudewo..." angguk Sekar Kusumadewi kepada sang kusir dan nadanya selalu sama , lembut dan anggun. " Bu de yang minta mang Kasimudewo untuk menjemputku ? " lanjutnya lagi .

" Nggih , neng Sekar...Bu de sedikit marah tadi , soalnya neng Sekar tidak mengabarkan mang Kas untuk menemani neng Sekar pergi..." jawab mang Kasimudewo dengan nada hormat dan melecut sang kuda agar segera beranjak dari tempat itu.

" Duuh...mang Kas , Bu de selalu seperti ini..kadang aku merasa tidak lagi punya kebebasan sebagai manusia.." keluh Sekar ditengah derap kaki kuda menerobos jalan becek menuju Limbarawa.

" Jangan begitu , neng Sekar...Ini semua demi keselamatan neng Sekar..." jelas mang Kasimudewo dengan nada tetap menghormat , " neng Sekar kan belum melihat bagaimana buasnya dunia diluar sana. Mang Kas juga merasa bersalah karna lengah tidak menemani dan menjaga neng Sekar.." sambungnya lagi.

Sekar Kusumadewi sedikit mangkel dengan alasan itu namun tidak bisa membantah bahwa dirinya memang masih hijau dalam hal ini. Bahkan dia meras beruntung tidak celaka ditangan Tan Shien Lie, anak dari marga Tan di antai utara Simongan yang sering jadi momok dalam masyarakat itu.

" Terima kasih , mang Kas.." ucapnya begh, " mang Kas tahu tentang marga Tan di pantai utara Simongan ? " tanya Sekar Kusumadewi kemudian ketika ingatannya terusik dengan pengalamannya tadi 

Mendengar hal itu , seketika wajah mang Kasimudewo terlihat sedikit terkejut dan balik menatap Sekar Kusumadewi yang duduk dibelakangnya.

" Kenapa neng Sekar bertanya demikian ? Apakah neng Sekar pernah bertemu dengan mereka ? " tanya mang Kasimudewo dengan nada khawatir.

Kemudian Sekar menceritakan hal ikhwal pertemuannya dengan salah satu anggota marga Tan yang sedikit banyak menggetarkan hati siapapun yang berurusan dengan mereka . Mendengar semua cerita Sekar itu , tampak wajah mang Kasimudewo sebentar puct, sebentar gerah. Yang pasti dia sangat khawatir akan keselamatan junjungannya itu . Belum lagi dia membayangkan bagaimana Bu de, majikannya itu akan berkata tentang masalah ini.

" Aduuuh..neng Sekar, bagaimana ini bisa terjadi ? Lupakah neng Sekar kalau Bu de neng Sekar pernah wanti-wanti untuk tidak terlibat dalam urusan yang bisa berakibat buruk bagi neng Sekar ? " keluh mang Kasimudewo pasrah.

" Ini hanya kebetulan saja, mang Kas..aku tidak bisa diam saja melihat kelakuan anak marga Tan yang bertindak semaunya itu..." bantah Sekar Kusumadewi dengan sedikit perasaan kesal .

" Betul neng Sekar tapi hendaknya neng Sekar mulai sekarang lebih hati-hati lagi . Jangan memaksakan diri untuk terlibat dalam urusan begini , bagaimana nanti mang Kas memberi jawaban untuk Bu de ? Neng Sekar harus lebih giat dan rajin lagi untuk berlatih , walau bagaimanapun kepandaian neng Sekar belumlah cukup untuk menghadapi dunia luar.." nasehat mang Kasimudewo dengan sabarnya dan merasa maklum terhadap kekerasan hati keponakan majikannya itu .

" Maafkan Sekar , mang Kas.." angguk Sekar sambil menyentuh pundak lelaki yang selalu menjaga dan melindunginya sejak kecil itu." Bukan maksud Sekar untuk menyusahkan mang Kas..Sekar berjanji untuk berlatih lebih keras lagi dan kejadian tadi mengingatkan Sekar kalau didunia luar begitu banyak orang dengan kepandaian sangat tinggi..cuma saja, Sekar tidak mengerti ; mengapa Bu de selalu menekankan keselamatan Sekar ? Kenapa Bu de selalu mengikat Sekar agar tidak selalu memperlihatkan diri Sekar apa adanya ? " berondong Sekar melampiaskan rasa ingin tahunya .

Mendengar semua pertanyaan itu , mang Kasimudewo tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya . Rupanya anak perempuan ini sama sekali tidak mengetahui rahasia dirinya sehingga sulit menerima perlakukan bibinya itu . Namun mang Kasimudewo juga merasa tidak berhak untuk mengungkapkan rahasia dibalik semuanya itu . Bukan tugasnya itu dan kewajibannya hanyalah menjaga keselamatan Sekar Kusumadewi dengan nyawanya sendiri kalau memang perlu. 

" Sabar toh nduk...suatu hari Bu de mu itu akan menjelaskan semuanya dan neng Sekar akan mengerti bagaimana dan harus apa dalam bertindak. Mang Kas hanya ditugaskan untuk menjaga dan melindungi neng Sekar, biarpun hari ini mang Kas telah melalaikan tugas itu.." jelas mang Kasimudewo dengan sabarnya.

Sekar Kusumadewi lantas diam . Delam itu berlari makin cepat supaya bisa tiba di Limbarawa sebelum gelap . Hujan juga tak peduli dan terus mengguyur dengan derasnya , membiarkan benak Sekar Kusumadewi penuh dengan berbagai pertanyaan yang tidak terjawab. Sekar juga membayangkan bagaimana nanti sikap Bu de nya itu dengan kenekatannya keluyuran tanpa ditemani mang Kasimudewo .

Demikian juga halnya dengan sang kusir yakni mang Kasimudewo , pikirannya terusat pada lari sang kuda agar segera tiba dirumah sekalipun pasti akan mendapatkan teguran atas kelalaiannya hari ini . Namun itu tidak akan mengubah sikapnya terhadap pengabdian yang telah dilakukannya nyaris sepanjang usianya tersebut. Baginya pengabdian itu sangatlah berharga dan terhormat.

Sementara itu Ni Prili sedang berjalan menelusuri desa Kinahrejo itu bersama dengan Lin Jun Yuan , pemuda dari perusahaan pengawalan barang Elang Laut dari Simongan , yang amat menarik hatinya tersebut. Tentu saja Ni Prili tak rela melepaskan kesempatan itu untuk lebih dekat dengan pemuda yang disenanginya. Kegitan itu sedikit banyak telah melupakan tujuannya didesa Kinahrejo dimana dia telah berjanji akan menunggu kedatangan adik seperguruannya Ni Sari Ratna Gandulecapung . Keduanya memang mendapat tugas dari sang guru Nyai Pandera Wirogeni dari riungan Kidul .

Sepertinya gayungpun bersambut karna pemuda itu, Lin Jun Yuan merasa cocok dengan Ni Prili yang rada slengekan itu . Karna tujuan mereka sedikit bersinggungan , yaitu Lin Jun Yuan menuju Surakarta dan dia menuju arah gunung Kidul , maka pemuda itu tidak keberatan menemani Ni Prili menunggu kedatangan adik seperguruannya itu .

" Kalau tugasmu selesai , maukah engkau menemuiku di riungan Kidul ?" tanya Ni Prili tanpa tedeng aling-aling dengan perasaannya sendiri ketika keduanya sedang duduk di sebuah pondok kosong ditepi desa Kinahrejo . Senyum genit mengembang dari bibirnya dan wajah yng sedikit bersemu merah kemaluan itu.

" Hehehehe...apakah kedatanganku nanti tidak akan membuat marah gurumu ?" jawab pemuda itu sembari tertawa kecil.

“ Hihihihi...tentu saja tidak. Guruku kadang memang galak tetapi hatinya baik dan tentunya akan sangat menyenangkan bila engkau datang berkunjung..." geleng Ni Prili semakin tersanjung dengan kesopanan Lin Jun Yuan.

Keduanya tertawa dan kabut mulai mengisi keremangan yang mendekati senja itu. Sesekali Ni rili melongokkan kepalanya menatap ujung jalan untuk melihat apakah adik seperguruannya sudah muncul ataukah tidak. Walau bagaimanapun dia merasa sedikit khawatir kalau-kalau adiknya itu mendapat halangan.

“ Bahkan itu bisa membantumu kalau engkau melakukan perjalanan ke daerah selatan untuk mengirim barang atau melakukan pengawalan. Riungan gunung Kidul mempunyai reputasi didaerah selatan dan tidak akan ada yang berani mengusik bila mereka tahu engkau kenal dengan kami...” sambung Ni Prili sambil mengusik agar pemuda itu memenuhi tawarannya untuk berkunjung. Dalam hati Ni Prili mengumpat akan niat ganjennya itu, namun mungkin hatinya tak rela bila pemuda itu menghilang darinya.

“ Terima kasih sebelumnya. Kami memang membutuhkan hal itu karna belakangan daerah selatan kurang begitu bersahabat dengan kami para pengawal pengiriman barang...” angguk pemuda itu tetap dengan rasa sopan yang tidak berlebihan,” guruku tentu akan sangat berterima kasih sekali dengan riungan gunung Kidul bila pekerjaan kami tidak ada yang mengusiknya..” senyum Lin Juan Yuan yang segera memporak-porandakan hati Ni Prili. Dasar ganjen !

“ Tentu saja. Kalau ada yang berani mengganggu sahabat dari riungan gunung Kidul tentu akan langsung berhadapan dengan kami..” geger Ni Prili dengan sedikit menyombongkan dirinya. Alamak...! , hatinya memaki gemas.

Mereka terus berbincang dengan akrabnya . Rupanya benih-benih cinta mulai bersemi dihati mereka , sering turunnya hujan ditengah kabut yang mulai menggelapi daerah itu. Dan dari kejauhan Ni Prili dapat mengenali adik seperguruannya yang berlari tergopoh-gopoh dalam tirai hujan yang semakin deras. Keadaan Ni Sari Ratna Gandulecapung tidak bisa dikatakan baik karna luka dalam itu masih menyusahkannya disamping harus berlari ditengah hujan untuk memenuhi janjinya ditemat itu .

Dengan napas terengah-engah , Ni Sari Ratna Gandulecapung akhirnya tiba juga dipondok tersebut, dimana kakak seperguruannya sedang berbincang dengan seorang pemuda. Tanpa memperdulikan mereka , Ni Sari Ratna Gandulecapung langsung duduk dan menenangkan napasnya . Ni Prili membiarkan saja kelakuan adik seperguruannya itu dan menunggu penjelasan mengenai keterlambatannya.

“ Maaf aku..terlambat kak...” ujarnya dengan napas memburu, dadanya yang terluka dalam masih menyisakan sakit,” ada sedikit hambatan ketika aku tiba di perbatasan kulon...” lanjutnya kemudian sambil menceritakan pengalaman nya ketika bertemu dengan Cheng Yi Lin dan Tan Shien Li yang telah melukainya.

Mendengar cerita sang adik , wajah NiPrili berubah keras dan tampak amat kesal.

“ Murid dari perempuan tua di hutan larangan itu ? “ sergahnya pelan sambil menahan emosi,” selalu saja ada masalah kalau berurusan dengan perempuan bisu itu..” umpatnya gemas.

“ Dia tidak bisu lagi, kak. Dia sudah bisa bicara , tidak tahu apa alasannya tempo hari dia tidak mau bicara..tapi dia telah menyelamatkan aku dari si perempuan ganas Tan Shien Li itu..setidaknya demikian..” jawab Ni Sari Ratna sambil terus menekan-nekan dadanya yang sakit.

“ Sialan itu anak marga Tan...Suatu hari akan kusumbat kesombongannya..” sekali lagi Ni Prili membentak kesal. 

“ Jangan remehkan perempuan yang bernama Tan Shien Li itu. Marga Tan di pantai utara Simongan sangat ditakuti dan selalu menjadi sandungan bagi siapa saja..” Lin Jun Yuan menyelelutuk pelan, “ Hanya karna hubungan baik guruku dengan kepala marga Tan saja , mereka tidak mengusik pekerjaan kami..” jelasnya lagi, sambil menatap kedua perempuan didepannya itu.

“ Siapa dia ini kak ?” tanya Ni Sari Ratna menatap Ni Prili , kakaknya.

“ Ini Lin Jun Yuan , dari perusahaan pengawalan barang Elang Laut di Simongan. Dia akan ke surakarta dan kebetulan masih satu arah dengan kita..” jelas Ni Prili sambil menahan diri agar tidak kelihatan ganjen didepan adiknya itu.

Ni Sari Ratna hanya mengangguk tanpa mau memberikan komentar , dia hafal dengan kakaknya yang rada ganjen itu .

“ Terus bagaimana dengan Cheng Yi Lin itu ? “ tanya Ni Prili sekedar mengalihkan pembicaraan mengenai pemuda tersebut.

“ Entahlah, tampaknya perempuan tua yang disebut Cui-Beng-Nio-Cu itu memiliki kepentingan atas dirinya. Tidak tahu apakah berniat baik ataukah buruk. Perempuan tua itu memliki kepandanian yang sangat tinggi , sehingga Tan Shien Li dan paman gurunya saja harus lari terbirit-birit..” jelasnya kemudian.

Lin Jun Yuan tampak mengerutkan keningnya. Nama Cui-Beng-nio-Cu pernah didengar dari sang guru namun dia tak menyangka bahwa perempuan tua itu masih terdengar walau sudah lama menghilang.

“ Siapa Cui-Beng-Nio-Cu ini ? “ gumam Ni Prili yang tak pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh gurunya selama ini .

“ Kalau tak salah guruku pernah mengatakan bahwa Cui-Beng-Nio-Cu ini merupakan salah seorang pengawal pribadi dari orang kepercayaan laksamana Cheng-de atau Cheng-ho, yaitu Wang Jing hong. Sewaktu perjalanan dan tiba di pantai utara Simongan , Wang Jing Hong ini sakit dan menetap didaerah Simongan, dimana kedua pengawal perempuan yang amat sakti dan setia itu mengikutinya tinggal. Namun setelah Wang Jing Hong meninggal karna sakitnya kedua pengawal setia itupun pergi merantau dan tidak diketahui kemana tinggalnya . Cui-Beng-Nio-Cu Cheng Yue Lin adalah pengawal nomor satu dan yang kedua adalah adik seperguruannya sendiri yaitu Ang-I-Nio-Cu Cheng Yin Fei . Keduanya sangat sakti dan memiliki kebebasannya sendiri sehingga tidak ada seoarangpun yang mampu mengalahkan mereka....” Lin Jun Yuan sedikit menceritakan asal muasal nama itu seperti yang pernah dikatakan gurunya,” Namun guruku tidak pernah bertemu dengan mereka dan keberadaan mereka hanyalah merupakan sebuah cerita yang kadang sulit untuk dipercaya...” lanjutnya lagi .

Mendengar cerita itu mendadak mata Ni Prili sedikit terbelalak , ingatannya melayang pada pertempuran terakhir gurunya dengan perempuan penguasa hutan larangan itu.

“ Hahh ?? Cheng Yue Lin ? Berarti...” Ni Prili kemudian manggut-manggut sambil benaknya terus berpikir, “ Berarti Cheng Yi Lin ditolong oleh bibi gurunya sendiri. Syukurlah kalau begitu..” ujarnya sedikit lega.

“ Iya, kak...kalau begitu keadaannya tidak mengkhawatirkan lagi, apapun yang terjadi tentunya Cheng Yi Lin lebih aman berada ditangan bibi gurunya..” sambung Ni Sari Ratna ikutan merasa lega.

“ Hanya saja....” gumam Lin Jun Yuan tanpa meneruskan ucapannya, pikirannya melesat dan menganalisa sebab musabab terjadinya bentrokan itu.

“ Apa maksudmu Jun Yuan ? “ tany Ni Prili sedikit mengungkap nada mesra didalam ucapannya . Siyaalll...ganjen banget sih lo ?, hatinya memaki .

“ Cemeti Lengkingan Naga ? Aku belum pernah melihatnya atau mendengar guruku menyebut dalam ceritanya...” jawab pemuda itu mengambang. “ Apakah ini pertanda akan terjadi geger pula seperti halnya sewaktu terjadi perebutan Pedang Naga Giok Langit ? Sampai sekarangpun Pedang Naga Giok Langit tidak tahu kemana rimbanya. Mungkinkah pusaka Cemeti Lengkingan Naga adalah pembuka misteri pedang itu ? “ lanjut Lin Jun Yuan melemparkan pemikirannya.

“ Mungkin memang benar ada hubungannya , dua purnama yang lewat sewaktu guruku bertarung dengan perempuan dari hutan larangan, Cheng yi Lin muridnya itu juga menggunakan selembar tali yang mirip cemeti dan sangat hebat kemampuannya...mungkin itulah Cemeti Lengkingan Naga yang hendak direbut Tan Shien Li dan paman gurunya...” angguk Ni Prili sambil mengingat kembali kejadian itu .

Tak lama kemudian mereka meneruskan perjalanannya setelah hujan mulai reda dan tidak mau menunggu lagi karna kabutpun semakin tebal menyelimuti kaki gunung itu. Mereka akan berusaha mencapai kampung yang lebih besar atau bahkan kota kecil karna mereka akan membutuhkan rumah penginapan.

Kabut memang selalu menjadi pemandangan tersendiri kala senja menjelang apalagi kalau hujan menyerbu. Begitu pula ketika gemeretak kaki kuda yang menarik delman itu mulai memasuki daerah Limbarawa . Hawa kian dingin menusuk kulit dan hujan belum juga mau berhenti . Daerah Limbarawa memang terkenal banyak hujannya dan daerah lembah itu merupakan daerah yang amat dingin kalau malam menjelang.

Akhirnya delman itu sampai juga disebuah rumah besar yang dikelilingi oleh pagar tembok yang kuat. Mang Kasimudewo membawa delman itu masuk melalui pintu belakang dan para pelayan tergopoh membuka pintu yang besar dan berat itu. Sekar Kusumadewi tampak sedikit menggigil dengan pakaian basah ditambah lagi dengan udara yang dingin. Segera saja dia merubungi perapian yang sengaja dibuat dibagian belakang halaman rumah itu . Beberapa pelayan segera memberi tempat bagi junjungan mereka itu dengan hormatnya.

“ Neng Sekar , sebaiknya segeralah mandi dan berganti pakaian kering. Nanti Mbah Putri bisa marah..” kata salah seorang pelayan muda, seorang anak perempuan yang usianya paling baru tiga belas tahun itu. Dia adalah putri semata wajang mang Kasimudewo dan selalu dekat dengan Sekar dalam kesehariannya.

“ Ndak apa-apa , nduk..” jawab Sekar sembari menerima sehelai kain dan membungkus dirinya dan menghangatkan badannya dekat tumpukan kayu yang menjadi perapian kala musim hujan itu.

“ Neng Sekar mau dibuatkan bubur panas ? Atau teh manis hangat ?” tawarnya lagi.

“ Tak usahlah, Karmita..Nanti saja kita makan bersama Mbah Putri..” jawab Sekar mengusap kepala perempuan kecil itu dengan lembutnya.

Karmita hanya mengangguk dan ikut menghangatkan dirinya. Sementara mang Kasimudewo sibuk mengurusi kudanya dan menghangatkan kuda itu dengan memberi nya selimut pula. Sedangkan para pelayan yang lain tampak sibuk mempersiapkan makan malam di dapur . 

Sekar Kusumadewi dan Karmita tak peduli dengan hal lain . Perlahan rasa hangat mulai merasuki badannya yang tadi menggigil kedinginan. Sekar juga tak melihat seorang perempuan paru baya tampak berjalan mendatangi mereka di perapian itu. Perempuan itu masih tampak menyimpan kecantikannya dan sedikit kesal melihat kelakuan keponakannya yang sedikit pemberontak itu.

“ Nuhun..Mbah Putri...” sambut Karmita penuh hormat ketika pertama menyadari kehadiran sang junjungan utama .

“ Nggiih , Karmita...” angguk sang Mbah Putri lembut sambil duduk diatas bangku yang disediakan oleh Karmita.

“ Bu de..” sapa Sekar sambil menciumi tangan sang Bu de yang sedikit gemas itu.

“ Aah..engkau ini seringkali menyusahkan hati Bu de ,Sekar..” omelnya namun tak terlihat memaksa, “ Engkau pergi seharian tanpa berita yang jelas, terus hujan-hujanan dan sekarangpun tidak mau segera mandi dan berganti pakaian ?” lanjutnya lagi. 

“ Duuh..Bu de..jangan sering-sering ngomel nanti kerut-kerut itu semakin banyak..” goda Sekar tak peduli, “ Nanti saja mandinya kalau badan ini sudah hangat..” sambungnya kemudian .

Sang Bu de hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Sekar. Dia tidak bisa menumpahkan segala kekesalannya . Tidak , walau bagaimanapun dia tidak bisa memperlakukan Sekar dengan seenak perutnya sendiri .

Sang Bu de ini di kenal sebagai Gaharu Cindhe , seorang perempuan perantauan dari daerah Kediri dan menetap di Limbarawa sejak tujuh belas tahun yang lalu . Tak seorangpun tahu latar belakangnya kecuali bahwa perempuan baya itu adalah seorang pengusaha dan memiliki banyak sawah serta perkebunan.

Sesungguhnya Gaharu Cindhe adalah seorang yang berasal dari kalangan kerajaan di Kediri . Namun karna perebutan kekuasaan dan perselisihan sang raja dengan pemegang kekuasaan di Majapahit , menyebabkan Gaharu Cindhe harus melarikan diri dan mencari tempat untuk meneruskan hidupnya . Sedapat mungkin rahasia itu terus dipegang tanpa ada yang mengusiknya. Gaharu Cindhe sendiri sebenarnya bukanlah namanya dan dia bertekad untuk melupakan namanya maupun siapa dirinya .

Yang paling memberatkan dirinya adalah ketika harus mengasuh salah seorang keturunan raja terakhir dari kerajaan Kediri yaitu Sekar Kusumadewi yang dilahirkan oleh salah seorang selir dari sang raja Kediri, Jayakatwang yang akhirnya ditundukkan oleh salah seorang bekas raja singosari yang diberi pengampunan. Sayangnya , niat baik itu telah dipergunakan oleh sang raja singosari yang diampuni yakni Raden Wijaya untuk memupuk kekuatan dalam usahanya membalas dendam . Raden Wijaya berhasil menggunakan kekuatan pasukan mongol yang ingin memberi pelajaran kepada Raja Kertanegara untuk memukul balik kepada Raja kediri yang mengampuninya yaitu Jayakatwang. Akhirnya usaha itu berbuah hasil, Raden Wijaya yang menempati satu daerah yang namanya hutan Tarik berhasil menyusun kekuatan sehingga daerah itu diubahnya menjadi Majapahit, yang berasal dari buah maja yang rasanya pahit. 

Akibat hantaman pasukan mongol yang sengaja diperalat Raden Wijaya, maka berakhirlah kerajaan Kediri dan mulailah era baru kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya sebagai raja pertama setelah pasukan mongol itu berhasil pula diusirnya dari tanah jawa .

Berakhirnya kerajaan Kediri membawa banyak dampak buruk, dimana para punggawa yang setia terpaksa harus melarikan diri dan berpencar mencari penghidupan baru dengan menyembunyikan siapa diri mereka sesungguhnya. Demikian pula halnya dengan salah seorang pelayan utama dari sang selir Raja Jayakatwang, yaitu yang disebut dengan Gaharu Cindhe , harus melarikan diri dengan membawa serta bayi perempuan berumur dua tahun dan menyembunyikannya jauh dari hingar bingar berdirinya kerajaan majapahit . Pada waktu itu dia sendiri berusia kurang lebih dua puluh delapan tahun .

Selama belasan tahun hidup dalam pengasingan dan menyembunyikan keadaan jati dirinya tidak membuat Gaharu Cindhe lantas melupakan asal muasal mereka. Untunglah selama perjalanan itu , Gaharu Cindhe yang membawa banyak harta pemberian sang selir untuk menjaga anaknya, ditemani oleh punggawa utama kerajaan yaitu sang kusir delman yang menyembunyikan dirinya dalam nama Mang Kasimudewo . Sang punggawa ini telah bersumpah setia dihadapan junjungannya sang raja Jayakatwang sebelum kematiannya . Itulah sebabnya mang Kasimudewo amat menghormati Sekar Kusumadewi yang sesungguhnya adalah puteri raja Kediri yang terguling. Namun kesetiaannya tak tergoyahkan walau kenyataannya bahwa kerajaan Kediri sendiri sudah musnah.

Rahasia itu tersimpan rapat selama belasan tahun dan tampaknya sulit untuk mencegah rasa ingin tahu Sekar Kusumadewi yang kini berusia sembilan belas tahun. Namun semua itu amat tergantung dari kebijakan Gaharu Cindhe karna perempuan itu sangatlah pandai dan keahliannya dalam ilmu silat sesungguhnya tidaklah banyak yang tahu termasuk Sekar Kusumadewi sendiri !

Sementara itu Tan Shien Li yang terpaksa berlari mengikuti sang paman guru sangatlah mendongkol . Tetapi nama Cui-Beng-Nio-Cu sangatlah menakutkan dan dia menggerutu panjang pendek karna niatnya merebut cemeti milik Cheng Yi Lin gagal total. Itulah pertama kalinya dia gagal dalam memenuhi keinginannya atas sesuatu , sekalipun itu milik orang lain .

Setelah jauh melewati Limbarawa , sampailah mereka diperbatasan Simongan dan Tan Shien Li melampiaskan rasa kesalnya dengan menghajar salah seorang penjual tahu goreng yang sedikit pelit memberinya cabe rawit. Tak seorang pun yang berani menentang karna merasa ngeri dengan keangkeran nama marga Tan. Alhasil sang penjual tahu goreng itu babak belur hanya karna rasa pelitnya tersebut. Dengan kesal Tan Shien Li mengambil tahu dan cabe rawit sebanyak yang dia mau serta membayarnya sebanyak yang dia pesan.

Hek San Kui Jau Tak Gai hanya menyeringai dan tak peduli dengan kelakuan murid keponakannya itu . Dia tahu bahwa akan percuma menasehati Tan Shien Li yang amat keras kepala itu, apalagi itu adalah murid kesayangan adik seperguruan nya sendiri, Pek Mau Siang Cu yang dasarnya amatlah egois.

“ Kenapa paman harus melarikan diri seperti ini ? “ gerutu Tan Shien Li merasa tidak puas , setidaknya mereka harus bertarung lebih dahulu.

“ Cui-Beng-Nio-Cu bukanlah orang yang bisa dibuat main-main..” jawab Hek San Kui tenang, “ Melawan murid Ang-I-Nio-Cu saja kita tidak bisa mengalahkannya dalam waktu singkat, bagaimana kita mau mengusik Cui-Beng-Nio-Cu ?” jelasnya lagi sambil berpikir keras dengan kehebatan perempuan tua itu.

“ Jadi..? Paman tidak sanggup mengalahkannya ?” ejek Tan Shien Li lagi.

“ Jangan suka merendahkan orang, Shien Li..” bentak Hek San Kui panas juga hatinya diejek begitu, “ Untuk mengalahkan Cui-Beng-Nio-Cu bukan hanya asal ngomong dan asal serang. Dan engkau juga suka seenaknya sendiri..” lanjutnya sedikit berang.

Tan Shien Li tak peduli . Mulutnya terus mengunyah tahu goreng panas itu dan cabe rawit bergantian masuk. Sedangkan kakinya masih juga sempat menendang tukang tahu goreng itu sampai mental masuk ke selokan. Orang-orang yang menyaksikan kebrutalan perempuan itu hanya bisa memaki dalam hatinya. Mereka tahu siapa perempuan itu dan kalau menentang berarti hanya mencari kematian datang lebih cepat .

Tak lama kemudian datanglah serombongan orang dengan derap kudanya. Ternyata mereka adalah orang-orang dari marga Tan , entah siapa yang mengabarkannya dan mereka datang menjemput Tan Shien Li dengan membawa kuda kesayangannya.

Dengan perasaan mendongkol Tan Shien Li memacu kuda kesayangannya bagaikan terbang menuju ke pantai utara Simongan , dimana rumah keluarga dari marga Tan berdiri kokoh dengan pagar tinggi nan luas.

Hek San Kui sendiri tidak terlalu mengacuhkan tabiat jelek murid keponakannya dan hanya memacu kuda itu bersamaan dengan yang lainnya. Senja sudah semakin dekat dan hujan tinggal gerimis saja sekalipun tidak membiarkan gigil menyergap mereka.

Selepas senja maka segalanya akan terjadi atau tidak sama sekali, itu tak lagi penting. Manusia senantiasa meletakkan kepentingannya diatas segalanya dan itu selalu terjadi . Tan Shien Li sebenarnya seorang perempuan yang cantik namun gemblengan kemanjaan sedari kecil telah membentuknya jadi seorang yang sangat mengesalkan bagi siapapun juga. Tan Shien Li tak peduli karna dia hanya peduli pada segala keinginannya tercapai . Tak peduli sekalipun itu akan menimbulkan kematian.

Sedangkan ditempat lainnya , Cheng Yi Lin tersadar ketika senja telah tertutup oleh gelapnya malam . Rasa dingin menyeruak seakan ingin merobek kulit. Yi Lin masih merasakan pening melanda kepalanya. Sebuah lampu teplok menemani dirinya dekat pembaringan sederhana yang terbuat dari bambu itu. Sedangkan tak jauh dari situ terdapat sebuah api unggun yang dikelilingi batu-batu kali memendarkan rasa hangat diruangan yang cukup luas itu.

Samar-samar Cheng Yi Lin melihat seorang perempuan tua sedang memasak didapur kecil yang ada disudut ruangan itu. Dengan kepala berat Cheng Yi lin berusaha bangun dan gerakan itu mengusik sang perempuan tua tersebut.

“ Aaiih...jangan paksakan dirimu bangun. Beristirahatlah karna engkau terkena jarum beracun milik marga Tan yang terkenal itu...” ucapnya lembut sembari mendatangi Cheng Yi Lin dan menekan tubuh itu untuk kembali berbaring. 

Cheng Yi Lin sedikit terkesiap karna perempuan tua itu mendatanginya hanya dalam waktu sekejap sedangkan jarak diantara mereka lumayan jauh. Dalam hati dia hanya berharap bahwa perempuan tua itu tidak akan menjadi lawannya kelak.

Tekanan lembut tangan itu membuat usaha Cheng Yi Lin jadi sia-sia dan harus kembali terbaring. Diam-diam perempuan tua itu telah memperlihatkan kekuatan sinkangnya yang hebat. 

“ Siancay...siancay....siapakah engkau anakku ? Apa hubunganmu dengan Ang-I-Nio-Cu ? Kulihat engkau menggunakan ilmu It-Yang-Cie dan Im-Yang-Kun-Hoat dalam satu kali serangan, itu tidak pernah dilakukan sebelumnya. Juga engkau menggunakan ilmu selendang merah pencabut nyawa milik Ang-I-Nio-Cu...apakah engkau adalah muridnya ?” suara lembut itu melontarkan banyak pertanyaan yang mengusik rasa ingin tahunya.

Cheng Yi Lin memandang perempuan tua itu dengan takjub, tak pernah disangkanya bahwa perempuan tua itu mengenal semua jurusnya hanya dengan sekali pandang dan itupun dari jauh pula. Dalam hati Cheng Yi Lin merasakan getar yang hebat melandanya . Mungkinkah dia ? Tanyanya dalam-dalam.

“ Maafkan aku , bibi..Aku Yi Lin , Cheng Yi Lin . Aku adalah murid ibu guru Ang-I-Nio-Cu Cheng Yin Fei..” jawab Cheng Yi Lin berterus terang.

Wajah perempuan tua itu tersenyum dan rasa damai melingkupi hati Cheng Yi Lin seketika itu juga.

“ Aaah...ternyata benar dugaanku ketika melihat engkau bertarung..Siancay... Siancay...ternyata jodoh telah mempertemukan kita , anakku...” ujarnya pelan sambil mengusap lembut kening Cheng Yi Lin, “ Aku adalah kakak seperguruan dan kakak kandung gurumu itu , Cheng Yue Lin...” sambungnya pula.

“ Salam hormat bibi guru..ah, maafkan Yi Lin kurang ajar pada bibi guru” seketika perasaan membludak dan berkecamuk dalam hatinya.

“ Anak baik..jangan minta maaf..engkau sungguh luar biasa telah mampu menyerap ilmu adikku itu..” tegurnya dengan senyum lembut mengembang.

“ Ibu guru memintaku untuk mencari bibi guru , itu adalah pesan terakhirnya “ jawab Cheng Yi Lin menitikkan air matanya. Sedih karna teringat dengan guru dan sekaligus ibu serta gembira karna telah dipertemukan dengan sang bibi guru yang harus dicarinya itu.

“ Siancay..siancay..Amithaba....Rupanya adikku telah mendahului aku si tua bangka ini menuju nirwana...Siancay...siancay...” perempuan tua itu tersenyum sambil menangkup kedua tangannya memanjatkan doa tanpa ada kesedihan sedikitpun melandanya.

Dalam isaknya Cheng Yi Lin mengeluarkan selendang merah milik ibu gurunya dan berlutut dipembaringan untuk menyerahkannya kepada sang bibi guru. Cheng Yue Lin menepuk kepala murid keponakannya itu dengan lembut.

“ Itu adalah milikmu sekarang, anakku Yi Lin..Simpanlah baik-baik, suatu hari akan ada gunanya...” ujarnya masih tetap dengan nada penuh kelembutan.

Cheng Yi Lin mengangguk dan begitu terkesan dengan kedamaian yang tersirat dalam kematangan hidup bibi gurunya itu.

“ Jangan menangisi apa yang telah menjadi kehendak alam , anakku Yi Lin..Ku lihat engkau telah dididik dengan baik oleh adikku itu dan aku sangat senang melihatnya. Kini engkau bersamaku dan akan kuajarkan semua ilmu yang cetek ini untuk menjadikan engkau sebagai ahli waris kami...” angguk Cheng Yue Lin tersenyum penuh kasih dan mengelus wajah cantik didepannya itu.

“ Sekarang ceritakan bagaimana asalnya engkau sampai bentrok dengan Hek San Kui Jau Tak Gai dan anak dari marga Tan itu ?” tanya Cheng Yue Lin sembari memeriksa denyut nadi ditangan Yi Lin . Wajahnya lega karna racun yang terkandung dalam jarum milik anak marga Tan itu telah hilang dan diam-diam dia mengagumi kehebatan tenaga dalam Yi Lin yang masih muda itu.

Cheng Yi Lin kemudian menceritakan semua kisahnya sejak pertemuan dengan Nyi Pandera Wirogeni sampai ketika dia memulai perjalanannya dan bentrok dengan Tan Shien Li yang menginginkan Cemeti Lengkingan Naga miliknya itu. Cheng Yue Lin mendengarkan semua kisah itu tanpa menimbulkan gejolak atau gemuruh dihatinya . Dia hanya mendengarkan semua kisah itu dan sesekali mengangguk dalam senyumnya.

“ Cemeti Lengkingan Naga ? Hmm...ternyata ibu gurumu telah mewariskan harta miliknya dan menjadikannya sebuah senjata hebat untukmu, Yi lin anakku..” ujarnya pelan,” jangan khawatir Cemeti Lengkingan Naga itu akan semakin hebat bila sembilan lembar benang emas milikku menyatu dengan sembilan lembar benang emas milik ibu gurumu yang telah mengikat tujuh belas urat harimau itu. Sebenarnya senjata itu adalah warisan guru kami dari partai Hoasanpay dan hanya bisa sempurna bila delapan belas lembar benang emas milik kami berdua menyatu dan mengikat ketujuh belas urat harimau itu. Sebenarnya Cemeti Lengkingan Naga diciptakan guru kami untuk menandingi kehebatan Pedang Naga Giok Langit yang telah menghilang . Kedua senjata ini akan menjadi satu bila berada ditangan yang tepat dan menguasai ilmu pedang itu . Rahasia Cemeti Lengkingan Naga itu sebenarnya sudah ada sejak Pedang Naga Giok Langit diciptakan, namun perebutan berdarah atas pedang itu dan akhirnya menghilang dari rimba persilatan membuat guruku memisahkan warisannya kepada kami berdua. Baru pada belasan tahun silam aku mengetahui bahwa sesungguhnya Pedang Naga Giok Langit selalu menyertai kami dan itu dimiliki oleh Laksamana Cheng-de. Dan yang paling menyakitkan adalah pemegang pedang itu adalah orang kepercayaan beliau sendiri yakni Wang Jing Hong , yang akhirnya meninggal karna sakit dipantai utara Simongan. Anehnya pedang itu tidak berada ditangannya dan selama puluhan tahun aku mencoba untuk mencarinya namun aku kehilangan jejak . Rupanya ada orang lain yang membawa pedang itu dan menyembunyikannya setelah peristiwa penyerangan rombongan Wang Jing Hong ketika melewati pantai selatan oleh para perompak disana. Entahlah, aku juga tidak tahu kemana pedang itu berada , seolah-olah hilang ditelan bumi. Satu- satunya jalan adalah menciptakan Cemeti Lengkingan Naga seperti yang dilakukan ibu gurumu itu, untuk memancing kembalinya Pedang Naga Giok Langit muncul kembali . Kedelapan belas benang emas itu sesungguhnya adalah kumis sang naga sendiri yang menyatu dalam Pedang Naga Giok Langit . Apabila benang- benang emas itu disatukan untuk mengikat tujuh belas urat harimau, maka lengkingan cemeti itu akan membangkitkan kembali ruh naga dalam pedang itu. Setidaknya itulah yang dikatakan guru kami waktu itu , Yi Lin anakku..” Cheng Yue Lin menceritakan panjang lebar mengenai rahasia Cemeti Lengkingan Naga sembari mengamati senjata itu dengan seksama. Senyum terkembang dibibirnya.

Cheng Yi Lin sendiri hanya bisa melongo. Tak pernah disangkanya begitu besar rahasia yang dikandung oleh Cemeti Lengkingan Naga buatan ibu gurunya dan baginya itu hanya sekedar senjata serta untuk mengikat rambutnya saja.

“ Kini tugasku adalah untuk menyempurnakan Cemeti Lengkingan Naga ini serta mengajari engkau ilmu Pedang Naga Giok Langit, agar suatu hari nanti engkau dapat menguasai pedang itu tanpa menimbulkan prahara..” lanjut Cheng Yue Lin kemudian . “ Cemeti ini harus disucikan dahulu , karna ada aroma darah yang telah menodainya. Tak usah engkau ceritakan tentang darah yang mengotori Cemeti Lengkingan Naga ini karna aku percaya engkau hanyalah membela diri. Ketika cemeti ini telah sempurna, maka engkau harus berhati-hati agar tidak sembarangan menggunakannya kecuali bila engkau terdesak dan harus membela diri. Marga Tan bukanlah ancaman tetapi Hek San Kui dan Pek Mau Siang Cu adalah orang yang harus diwaspadai karna mereka banyak kaki tangannya yang hebat-hebat. Engkau harus lebih hati-hati dalam perjalananmu kelak , anakku” Cheng Yue Lin memberikan wejangannya sebelum membawa Cemeti Lengkingan Naga itu dan merendamnya dalam air masakan obat yang rupanya sudah dipersiapkannya terlebih dahulu. 

Cheng Yi Lin hanya bisa mengangguk dan merasa kini badannya jauh lebih segar setelah mendapat pengobatan dari bibi gurunya. Cheng Yi Lin kemudian menikmati masakan sederhana yang dibuat oleh bibi gurunya. Suasana rumah yang pernah dirasakannya kini kembali menyeruak.

“ Dimanakah ini , bibi guru ?” tanya Yi Lin kemudian, daerah itu masih asing baginya .

“ Ini didaerah pedesaan yang agak jauh dari keramaian dan cocok untuk hidup tenang. Namanya Dusun Darum atau Desa Candi,masih masuk daerah Kadipaten Limbarawa,tak jauh dari sini ada Gedong Songo...” jelas Cheng Yue Lin dengan fasihnya menjelaskan arti tempat itu. “Gedong” berarti rumah atau bangunan, “Songo” berarti sembilan. Jadi Arti kata Gedongsongo adalah sembilan (kelompok) bangunan yang dibangun pada abad ke-9 masehi.

“ Disini tempatnya tenang dan hawanya sejuk. Tempat ini cocok untuk memperdalam ilmu dan kekuatan tenaga dalammu, anakku..” sambung Cheng Yue Lin dengan sabar dan tenang.” Karna letaknya di lereng gunung Ungaran, maka tak banyak orang-orang asing berkeliaran disini..”

Cheng Yi Lin hanya menganggukkan kepalanya. Dimanapun dia berada tak begitu memusingkannya selama dia dekat dengan sang bibi gurunya. Kerinduan akan sang guru kini sedikit terobati dengan kehadiran sang bibi guru. Keduanya terus berbincang-bincang sampai akhirnya Cheng Yi Lin terlelap dalam lelahnya.

Cheng Yue Lin dengan lembut menyelimuti tubuh Yi Lin dari terpaan dingin angin dilereng gunung ungaran itu. Sedangkan baginya sendiri hal itu tak menjadi masalah sama sekali . Selama belasan tahun tinggal dan mengasingkan dirinya jauh dari keramaian , akhirnya secara kebetulan dia menemukan pewaris dari adik seperguruannya. Cheng Yue Lin amat bersyukur sekalipun dia harus menerima kenyataan bahwa adik seperguruan yang juga adik kandungnya itu telah meninggal dunia . Namun kehadiran Cheng Yi Lin sangat menggembirakannya walaupun asal usul Yi Lin tidak diketahuinya secara jelas. Dia hanya berrharap bahwa pilihan sang adik tidaklah salah dan akan berbuah baik.

Sementara itu di Limbarawa. Kediaman keluarga Gaharu Cindhe yang tepatnya berada didesa Ngampin terletak paling barat wilayah Kadipaten Limbarawa, berbatasan dengan Kadipaten Jambu. Didaerah ini sangat terkenal akan buah-buahannya, antara lain buah durian yang berbau harum menyengat.

Di ruangan belakang rumah besar berpagar tinggi itu, sedang berkumpul para pelayan dan abdi dalam . Semuanya duduk dialas tikar sambil menikmati hangatnya api unggun dengan cangkir-cangkir kopi bertebaran. Ada pula yang membuat kue serabi dan ada pula yang menikmati buah durian yang diambil dari perkebunan milik keluarga itu.

Sekar Kusumadewi sendiri telah selesai dengan mandinya dan telah pula berpakaian kering. Karmita , bocah perempuan itu entah kemana, mungkin sibuk dengan kenakalannya kalau malam menjelang , mengusik para pelayan sibuk menyiapkan makan malam mereka . Satu kebiasaan dalam keluarga ini , adalah tradisi makan bersama tanpa ada batasan antara majikan dan bawahan. Itulah yang membuat para bawahan disitu sangat setia dan selalu menjaga keharmonisan mereka dalam satu kesatuan.

Gaharu Cindhe menatap kecantikan Sekar Kusumadewi yang memendar diantara lampu teplok yang menggantung didinding kamar itu. Sedangkan Gaharu Cindhe sendiri masih tampak menyiarkan kecantikannya walaupun telah berusia empat puluh lima tahun . Seorang pelayan utama yang tidak pernah menikah dalam usahanya mengabdikan diri untuk membesarkan putri junjungannya.

Sekar Kusumadewi berbalik dan menatap penuh rasa sayang kepada bu de nya itu dan segera memberikan sebuah pelukan .

“ Bu de selalu tampak cantik dan menyenangkan..” pujinya sedikit manja.

“ Ahh...engkau selalu pintar memuji , Sekar...” balas sang bu de dengan rasa senang dan bangga dengan kepandaian Sekar dalam bertutur kata.

“ Marilah kita makan sebelum mereka yang dibelakang kekenyangan dengan kue serabi dan buah duriannya...” ajaknya kemudian.

Sekar tertawa mendengar nada gerutuan sang bu de. Mereka para pelayan dan abdi dalam selalu ada saja kesibukannya sementara menunggu makan malam tiba. 

Sementara itu mang Kasimudewo tampak sedang berbincang dengan seseorang didekat pintu gerbang . Raut mukanya tampak tidak begitu enak dilihat apalagi dengan perawakannya yang tampak kasar itu. Tak lama kemudian orang itu pergi dan mang Kasimudewo segera menutup gerbang itu dan bergegas masuk kedalam.

“ Ada yang menyampaikan ini untuk ibu...” katanya sambil menyerahkan sebuah gulungan daun lontar kepada Gaharu Cindhe ketika mereka berpapasan dengan mang Kasimudewo didekat ruang makan.

Sejenak wajah Gaharu Cindhe mengerutkan keningnya ketika menerima gulungan daun lontar itu apalagi saat melihat perubahan wajah mang Kasimudewo tersebut. 

“ Terima kasih, mang Kas..dari siapa ini ?”, tanyanya sambil lalu.

“ Dari utusan Adipati Limbarawa , bu..” jawab mang Kas sedikit marah.

“ Baiklah...setelah makan kita akan membahasnya. Simpanlah dulu, mang Kas “ ujar Gaharu Cindhe berusaha untuk meredakan gejolak hatinya, “ Sekarang kita makan malam dulu..” ajaknya kemudian.

Tanpa bicara lagi mang Kasimudewo segera menyimpan gulungan lontar dibalik bajunya dan melangkah menuju ruang makan dimana para pelayan dan abdi dalam sedang menantikan kehadiran mereka. Kemudian makan malampun mereka lalui seperti yang sudah-sudah, penuh rasa kekeluargaan dan keakraban .

Malam yang dingin itu terus merayap dan menebarkan rasa gigil yang menggigit. Sekar Kusumadewi tampak bengong dan melongo ketika sang bu de Gaharu Cindhe menuturkan riwayat hidupnya . Sesekali pandangannya menabrak tatapan mang Kasimudewo yang juga ikut bersama dalam perbincangan tersebut. Mang Kasimudewo hanya manggut-manggut membenarkan setiap cerita sang bu de Gaharu Cindhe yang kali ini menceritakan semuanya dengn rasa beban yang berat.

Rasa keterkejutan dan desakan emosi yang luar biasa menghimpit perasaan serta kemampuan Sekar Kusumadewi menerima kenyataan yang ada. Setelah cerita itu berakhir , Sekar Kusumadewi tak lagi bisa menahan gejolak hatinya dan kenyataan itu sangat membebani hatinya. Sekar Kusumadewi langsung jatuh pingsan . Keruan saja hal itu membuat sibuk Gaharu Cindhe dan mang Kasimudewo memberikan pertolongan .

Tak berapa lama kemudian Sekar Kusumadewi lalu tersadar dengan sakit kepala menghimpitnya . Untuk pertama kalinya dia melihat sang bu de dan mang Kasimudewo berlutut dihadapannya.

“ Nuhun Kanjeng Puteri....” salam keduanya dengan sangat hormat dan hal itu membut Sekar Kusumadewi sangat terkejut dan sedikit marah .

“ Tidak...tidak mau...jangan lakukan ini bu de...mang kas...” sergah Sekar Kusumadewi dengan keras dan membangunkan mereka segera . Sekar Kusumadewi menangis tersedu-sedu dan air matanya berjatuhan .

“ Inilah kehendak hyang widhi , Kanjeng Puteri..” bantah sang bud de yang ikut juga menangis. “ Dulunya aku ini seorang pelayan dan sampai sekarangpun tetap seorang pelayan. Kanjeng Puteri adalah junjungan hamba dan itu tak terbantahkan...” jelas Gaharu Cindhe dengan lembut.

“ Betul , Kanjeng Puteri..kami ini adalah pelayan dan hamba dari Kanjeng Puteri Tugas kami adalah menjaga dan merawat Kanjeng Puteri sampai kapanpun..” sambung mang Kasimudewo tak kalah hormatnya.

“ Tidak...tidak...ini tidak boleh terjadi...aku tak ingin berubah seperti ini...aku ingin seperti sebelumnya. Aku tak pantas mendapatkan kehormatan ini, aku hanya ingin menjalani kehidupanku seperti sebelumnya..” protes Sekar Kusumadewi sambil berlutut pula dihadapan kedua orang yang telah merawat dan menjaganya selama ini, terutama menyayanginya sepenuh hati .

“ Aku tidak membutuhkan gelar atau kebanggaan menjadi seorang puteri raja, toh kerajaan Kediri sudah lama berakhir. Jadi , untuk apakah aku harus memangku sebagai Kanjeng Puteri ? Ini tidak bisa, bu de...mang Kas..” geleng Sekar dengan tegas, derai air matanya belum berhenti,” Aku tidak ingin berubah jadi aku mohon dengan sangat, janganlah mengubah kehidupanku sebelumnya. Aku hanya ingin menjalani kehidupanku apa adanya dan biarlah masa lalu selesai ketika kerajaan Kediri berakhir. Biarkan aku hidup seperti sebelumnya...aku mohon dengan sangat bu de...mang Kas...” lanjutnya sambil berkali-kali memberikan sujudnya kepada kedua orang yang telah menjaganya itu .

Gaharu Cindhe dan mang Kasimudewo tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun dan keduanya saling berpandangan sambil menarik napas . Pengorbanan mereka untuk sebuah pengabdian kepada sisa kemuliaan kerajaan Kediri tampaknya harus berakhir disini . Sekar Kusumadewi sebagai keturunan raja Jayakatwang, penguasa kerajaan Kediri yang dikhianati oleh Raden Wijaya yang kini adalah penguasa Kerajaan Majapahit , ternyata tidak menghendaki segala kemuliaan itu. Entah bagaimana tanggung jawab mereka nanti bila keturunan terakhir junjungan mereka tidak bisa melanjutkan perlawanan untuk menegakkan kembali kerajaan Kediri yang mereka hormati itu. Itu berarti hasil kerja keras mang Kasimudewo mengumpulkan para punggawa yang setia kepada kerajaan Kediri akan menjadi sia-sia, padahal para punggawa itu telah bersusah payah mengumpulkan barisan untuk menyerang Majapahit demi mengembalikan kehormatan kerajaan Kediri !

Kita tinggalkan sejenak kemelut yang melanda perasaan Sekar Kusumadewi yang telah mengetahui asal usul dirinya itu.

Kita mengunjungi markas keluarga dari marga Tan yang terkenal di pntai utara Simongan itu. Tan Shien Li yang tampak gusar memacu kudanya memasuki gerbang dan nyaris melindas para pelayan yang kalang kabut menghindari kuda itu. Tak ada keluhan selain hanya bisa memaki dalam hati atas kelakukan Tan Shien Li yang sering seenaknya itu.

Sang ayah, kepala marga Tan itu hanya menggelengkan kepalanya melihat puteri kesayangannya tersebut uring-uringan. Saat itu Tan Ek Tjoan , kepala keluarga marga Tan sedang sembahyang menghadap dewa langit dengan beberapa hio yang menyala. Perawakannya yang gendut dan pendek itu sama sekali tidaklah bisa diremehkan karna langkahnya amat gesit . Tan Ek Tjoan adalah seorang perantau dari negeri tiongkok dan merupakan salah seorang pengawal kapal-kapal laksamana Cheng-de dalam pelayarannya. Setelah kedua kalinya singgah di pantai utara Simongan, Tan Ek Tjoan memutuskan untuk tinggal disitu dengan membawa keluarganya . Dengan bakal dagang serta kepandaian silatnya yang berakar dari perguruan cakar besi yang cukup terkenal didaratan tiongkok, Tan Ek Tjoan memulai usahanya dengan membuka tokok kelontong di sebuah pasar yang dekat dengan pelabuhan dipantai utara itu.

Mulanya usaha tersebut banyak diganggu oleh para begundal pribumi yang merasa jadi jagoan didaerah tersebut. Namun Tan Ek Tjoan tidaklah gentar dan menundukkan mereka dengan jurus-jurus cakar besi yang ganas. Akhirnya para begundal itu tunduk dan mereka dijadikan kaki tangannya untuk melebarkan usahanya. Setelah bertahun-tahun bekerja keras , mulailah Tan Ek Tjoan melebarkan sayapnya dengan mengikat hasil bumi dan mengirimnya kembali ke daratan tiongkok dimana dia memiliki hubungan baik dengan berbagai kota pelabuhan disana. Dengan para begundal yang ditundukkannya, Tan Ek Tjoan berhasil menjadi seorang tauke ( pengusaha ) segala macam hasil bumi dan mulai memasukkan candu dari daratan india untuk dijual kepada pribumi maupun para perantau yang banyak menyinggahi kota dipantai utara tersebut. 

Selain keberhasilan dalam usahanya yang beraneka ragam itu , Tan Ek Tjoan juga menimbulkan penyakit akibat keserakahannya dalam berdagang. Mulailah terjadi pengacauan-pengacauan dalam usaha melebarkan dagangannya. Namun Tan Ek Thoan tidak bergeming, malah mendatangkan jagoan-jagoan yang dikenalnya dan pernah ditundukkannya di daratan tiongkok sana untuk datang membantu usahanya. Semakin lama Tan Ek Tjoan semakin terkenal dan kaya raya dari hasil usaha dagangnya itu, apalagi candu yang dimasukkannya dari negeri india itu segera menampakkan hasil dimana para pecandu selalu mencari barang tersebut kepadanya.

Namun dibalik kemajuan usahanya , sang istri tak kuat menghadapi perubahan cuaca dan kerasnya kehidupan dinegeri rantau. Setelah melahirkan anak keduanya yaitu Tan Shien Li , sang istri menghembuskan napas terakhirnya. Tan Ek Tjoan amatlah berduka dengan kepergian sang istri tercinta namun takdir berkata lain dan dia harus menerimanya. Anak pertamanya laki-laki dan bernama Tan Ek Song. Setelah berumur sepuluh tahun dan adiknya Tan Shien Li berumur empat tahun , Tan Ek Song dikirim ayahnya untuk belajar ilmu silat didaratan tiongkok dengan bimbingan seorang pendeta murtad dari perguruan Shiao Lin She, yaitu hweesio Gwee Ngang Kang yang tinggal disebuah kota kecil yaitu Shenzen .

Sedangkan Tan Shien Li dibesarkannya sendiri dan sedari kecil digembleng dengan keras oleh sepupunya yang merupakan tokoh persilatan yang amat dikenal didaratan tiongkok. Pek Mau Siang Cu merupakan tokoh persilatan yang amat disegani karna ilmu silatnya tinggi dan kejam. Setelah menjadi buronan pemerintah tiongkok, akhirnya Pek Mau Siang Cu menyusul sepupunya Tan Ek Tjoan dan tinggal di pantai utara itu sambil mendidik Tan Shien Li dalam ilmu silat. Selain itu sepupunya Pek Mau Siang Cu masih memiliki seorang kakak seperguruan yaitu Hek San Kui Jau Tak Gai , namun sama seperti Pek Mau Siang Cu , dia juga menjadi pelarian setelah kelakuannya mencuri kitab rahasia di perpustakaan kerajaan. Hek San Kui juga akhirnya menerima pinangan Tak Ek Tjoan agar bergabung dengannya.

Enam belas tahun sudah berlalu dan setiap hari Tan Ek Tjoan sembahyang kepada dewa langit dan bumi, agar anak lelakinya Tan Ek Song segera kembali kesisinya setelah selesai belajar dengan gurunya. Dan dari kabar yang diterimanya dari beberaa orang sahabatnya, bahwa Tak Ek Song akan kembali bersama gurunya hweesio murtad Gwee Ngang Kang ke pantai utara Simongan tak lama lagi. Tentu saja berita itu amat menggembirakan Tan Ek Tjoan, apalagi dengan kedatangan sang guru si anak, maka kekuatannya akan bertambah lagi untuk meluaskan usahanya keseluruh pulau jawa .

Tan Ek Tjoan nyaris terbahak melihat tampang anak kesayangannya yang cemberut dan melampiaskan kekesalannya dengan menendang baki minuman diatas meja. Namun tidak diperlihatkannya karna itu hanya akan menambah gemuruh marah sang anak kesayangannya tersebut. Tak Ek Tjoan tidak pernah ingin melarang apapun yang dikehendaki puterinya itu, sekalipun harus ada nyawa yang melayang itu tak apa.

“ Ada apa Shien Li ? Kenapa engkau begitu marah ?” tanya Tan Ek Tjoan kemudian.

“ Aku kesal , pa...masa tadi aku harus melarikan diri bersama supek hanya karna kedatangan seorang Cui-Bng-Nio-Cu ?” umpatnya menjadi-jadi.

“ Hahh ? Cui-Beng-Nio-Cu ? Engkau bertarung dengannya ?” , TAn Ek Tjoan tampak terperanjat dan menatap lekat puteri kesayangannya itu.

“ Kenapa papa juga sama seperti supek ( paman guru ) ?” sergah Tan Shien Li mendelik.

“ Waduuh..anakku , Cui-Beng-Nio-Cu itu tidak bisa dibuat main-main dan engkau bukanlah lawannya..” keluh Tan Ek Tjoan tak habis pikir, “ Hanya gurumu bersama supekmu saja yang mampu menandinginya...” jelas Tan Ek Tjoan sedikit berkeringat dengan ambisi anaknya yang melewati batas itu.

Kemudian dengan sabar Tan Ek Tjoan meminta puterinya itu menceritakan asal muasal pertemuannya dengan tokoh yang ditakutinya itu. Tan Ek Tjoan mendengarkan cerita sang puteri yang merasa kesal karna keinginannya tak tercapai yaitu benda milik Cheng Yi Lin yang belakangan diketahuinya sebagai Semeti Lengkingan Naga . Benda itu amat diinginkannya terutama setelah mengetahui benda itu amatlah hebat auranya.

“ Sabarlah, Shien Li...tak lama lagi kokomu akan datang kesini bersama gurunya. Engkau akan punya kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan Cemeti Lengkingan Naga itu..” hibur Tan Ek Tjoan dengan gayanya.

“ Koko akan kesini ? Kapan pa ?” tanya Tan Shien Li antusias. Wajahnya seketika tampak kegirangan dengan rencana kedatangan kakaknya itu. Semasa kecilnya Tak Ek Song amatlah menyayangi adiknya itu.

“ Mungkin sebulan lagi , saat ini dia dan gurunya telah menaiki kapal yang sekalian membawa barang untuk kita..” jelas Tan Ek Tjoan dengan gembira.

Tampaknya berita itu sedikit menghilangkan gundah dihati Tan Shien Li dan itu sangat menyenangkan hati Tan Ek Tjoan yang kadangkala sedikit miris melihat tingkah laku puteri kesayangannya itu. Karna walau bagaimanapun Tan Ek Tjoan tak mau ada masalah berkepanjangan dan mengusik usahanya. Apalagi kian hari semakin banyak saja yang coba mengusiknya dan berusaha untuk menjatuhkan usahanya dimana pihak kerajaan juga sedang menimang-nimang untuk mengenakan pajak kepada mereka . Namun dengan kedatangan kakak seperguruan Pek Mau Siang Cu yitu Hek San Kui Jau Tal Gai , cukup menenangkan hatinya apalagi nanti akan kedatangan putra sulungnya serta gurunya. Itu berarti tambahan kekuatan untuk membentengi usahanya dari gerogotan kelompok lain. Tan Ek Tjoan bertekad mempertahankan reputasinya disepanjang pantai utara Simongan agar tidak direbut kelompok lain.

Sedangkan ditempat lain, tampak ada keributan disebuah pasar dipinggiran ibukota kerajaan. Di pasar yang ramai dan banyak pengunjungnya itu tampak seorang pemuda bergajulan sedang bersitegang dengan murid kelima Nyi Pandera Wirogeni, yakni Ni Plur Bungopante alias si Bengal Kucing Wadas , seorang perempuan berambut lurus dan terikat dengan tali rami warna hijau. Kemben dan celana selutut yang dikenakannya juga berwarna hijau dengan lurik hitam. Sebuah pedang yang terbungkus kain tampak tergantung dibelakang punggungnya agar tidak terlalu menarik perhatian orang.

Ni Plur Bungopante alias si Bengal Kucing Wadas tampak melotot dan berkacak pinggang didepan pemuda yang cengangas-cengenges mempermainkan sebuah buntalan kain. Pemuda itu tidak sendirian tetapi ditemani oleh dua orang sebayanya yang kelihatan dari dandanannya bukanlah pemuda biasa. Pemuda yang sedang memainkan buntalan kain itu berpakaian warok dengan sebuah clurit besar menggantung dipinggangnya . Wajahnya sendiri tampak buruk dengan bopeng disana-sini. Sedangkan yang satu lagi berpakaian beskap dan mengenakan sebuah blangkon butut dengan sebuah codet memanjang dari ujung mata bagian dalam mendekati telinganya . Dan yang ketiga adalah seorang pemuda yang mengenakan celana cingkrang hitam dengan kasut tali tanpa baju sehingga perutnya yang buncit tampak mengerikan dihiasi panu-panu bertebaran.

Ketiganya terkenal sebagai bergajulan yang menguasai pasar beringharjo itu dan selalu bertindak semena-mena . Tak ada yang berani menentang karna mereka adalah penguasa pasar beringharjo itu dan para punggawa kerajaan tampak malas berurusan dengan mereka. Sore itu mereka melihat kehadiran seorang perempuan molek dan berusaha mengusiknya dengan merebut buntalan kain yang sedang dibawanya. Ketika mendapati bahwa perempuan itu malah hendak melawan, maka semakin beringaslah mereka karna selama ini mereka selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan.

“ Kembalikan buntalanku dan aku akan membiarkan kalian pergi dengan selamat “ ancam Ni Plur Bungopante alias si Bengal Kucing Wadas berusaha menghindari keributan yang tidak perlu.

“ Hahahahahhahaha...duuh si denok ini memang menggairahkan..” jawab di muka codet sambil tertawa . Siapa perempuan ini sehingga berani mengancam mereka ? Pikirnya merendahkan peringatan tersebut.

“ Hahahahahaha...betul..betul , kawan...tentu akan menyenangkan kalau malam ini kita minum arak dan makan daging babi panggang dengan ditemani si molek ini...” lanjut si warok dengan pongahnya dan terbahak.

“ Aku akan memangku dirimu..denokku...pasti engkau akan hangat dalam pelukanku ini..” sambung si perut panuan tak mau kalah dengan temannya.

Ketiganya terbahak dan tak peduli dengan pandangan orang-orang yang menatap perempuan itu dengan perasaan kasihan. Namun perempuan berkemben hijau itu tak terusik dan pandangannya yang tajam mendelik mengukur kemampuan ketiga bergajulan itu . 

“ Sudah kuperingatkan sekali dan jangan sesali kalau kalian tidak mau menyerahkan buntalan milikku itu..” desis Ni Plur Bungopante dengan entengnya dan tak tampak sedikitpun rasa gentarnya.

“ Wah..denokku sudah tak sabar rupanya...sini sayang, kakangmas akan memelukmu dengan erat...” jawab si perut panuan sambil merentangkan tangannya dan melangkah hendak memeluk perempuan berkemben hijau itu dengan gaya seronokya .

Namun apa yang terjadi ? Dengan sekali putaran badannya Ni Plur Bungopante melayangkan tumit kakinya menghantam dengan telak kearah tenggorokan si perut panuan tanpa ampun. 

“ Hahaha...hecckk..hecckkk..” siperut panuan tak bisa lagi melanjutkan tawanya dan tangannya memegang tenggorokannya sambil melotot . Tenggorokan itu seperti hendak meledak dan nyaris membuatnya pingsan. Si Perut panuan menggelosor dan jatuh berlutut sambil memegang tenggorokannya dengan kedua tangan . Dia terjengkang jatuh sambil menggelepar menahan rasa sakit yang menggigit tenggorokannya sambil mengeluarkan suara menggorok.

Kedua temannya terkejut bukan alang kepalang. Sama sekali tidak menyangka bahwa perempuan denok itu ternyata memiliki keberanian dan kepandaian pula. Dengan penuh amarah si blangkon codet merangsek dan tinjunya bertubi-tubi mengejar perempuan itu dengan ganasnya . Sedangkan si warok tampak melotot dan tangannya bergetar keras, lalu membanting buntalan kain ditangannya itu ke tanah sambil memaki-maki . Tampaknya dia sudah terlanjur kehilangan nalarnya sehingga dengan berang dicabutnya clurit besar itu dan mengayunkan nya kearah kedua kaki perempuan tersebut

Ni Plur Bungopante tidak tampak gugup. Tangannya bergerak cepat menangkis pukulan bertubi-tubi dari si perut panuan sehingga tak satupun tinju itu mengenainya. Dengan satu teriakan nyaring perempuan itu menjejak tanah untuk menghindari sabetan clurit dari si warok namun tangannya meneruskan satu pukulan tepat mengenai mata si blangkon codet. Rasa terkejut si blangkon codet akhirnya menjadi bumerang. Matanya lebam dan menimbulkan rasa nyeri yang menghimpit kepalanya. Si Balngkon codet cepat melangkah mundur dengan lebam menghiasi matanya yang bengkak dan bercucuran air mata saking sakitnya.

Melihat hal itu , si warok semakin ganas apalagi serangan pertamanya gagal. Tak ada lagi niat menggoda , kini niatnya adalah segera menghabisi perempuan denok yang tak lagi menarik hatinya. 

Ni Plur Bungopante melompat mundur selangkah dan bersiap menanti serangan si warok selanjutnya . Pedang yang terbungkus itu masih melekat dipunggung dan dia merasa tak perlu mengeluarkannya. Kali ini Ni Plur Bungopante merapal ilmu lima racun ular berbisa yang sudah dikuasainya 60 persen itu.

Si warok semakin menggila dan teriakannya membahana dikeramaian pasar beringharjo yang tampak dipenuhi orang yang menonton pertarungan itu. Diam-diam mereka mensyukuri pertarungan yang tampaknya akan dimenangkan oleh perempuan denok berkemben hijau itu. Bahkan ada pula yang langsung mengajak temannya untuk bertaruh siapa pemenangnya !

Dengan kepandaian yang lumayan si warok kini mulai hati-hati agar tidak lagi meremehkan perempuan itu. Clurit besar itu berputar bagaikan gangsing mengikuti tubuhnya yang berayun mengitar dan dalam satu teriakan, dia mengayunkan clurit itu untuk menebas pinggang perempuan tersebut. Namun Ni Plur Bungopante tidak mandah saja menerima serangan itu. Dengan menjejak tubuh si perut panuan Ni Plur Bungopante mengayunkan tubuh rampingnya melenting melewati sabetan clurit besar itu. Tak hanya sampai disitu, tangan kananya yang merapal ilmu lima racun ular berbisa itu menukik tajam dan mengibas kearah muka si warok yang dengan susah payah berhasil juga mengelak sekalipun harus terguling-guling karna putaran tubuhnya tadi.

Ni Plur Bungopante menggeram karna serangannya gagal. Perhatiannya segera berubah karna datangnya lengkungan sebuah golok menghantam ke arah pundaknya. Rupanya si blangkon codet telah mengeluarkan golok yang entah darimana didapatnya itu. Ni Plur Bungopante sengaja mendekatkan tubuhnya sehingga lengkungan golok itu melewati pundaknya dalam sekejap. Tentu saja si blangkon terkejut dengan cara perempuan itu mengelakkan serangannya, namun terlambat sebuah tepukan kembali mengenai lehernya. Si blangkon codet seketika menggelepar dengan wajah kehitaman . Rupanya dia telah terkena pukulan ilmu lima racun ular berbisa milik Ni Plur Bungopante !

Perempuan itu kini terkekeh dan bersiap pula menghadapi si warok yang telah berhasil mengendalikan dirinya . Melihat si blangkon codet rubuh, si warok semakin menggila . Segala caci maki menerjang sore yang mulai redup oleh gerimis yang berjatuhan . Dengan nekad dia melemparkan sebuah gentong milik penjual gudeg kearah Ni Plur Bungopante dan isinya berantakan bertebaran. Tentu saja perempuan itu mengelak tumpahan gudeg itu sambil melompat ke kiri dan satu tendangan kaki kanannya yang berputar berderak menghantam telinga kiri si warok . Hantaman itu membuat si warok berkunang-kunang matanya dan belum sempat mengendalikan dirinya , sebuah tepukan mengenai leher kirinya pula . Seketika si warok menjerit panjang dan wajahnya berubah menjadi kehitaman. Tubuhnya menggelepar dan nyawanya seketika putus !

Dengan tenang Ni Plur Bungopante mengambil buntalan kainnya dan menggendong diatas pundaknya lalu melangkah pergi meninggalkan keramaian pasar beringharjo yang kini terdiam menyaksikan ketiga begundal pasar itu tergeletak tak berdaya di emperan pasar. Tak ada yang berani berucap kata sekalipun mengeluarkan suara melihat ketenangan perempuan berkemben hijau itu berjalan meninggalkan mereka semua .
Senja semakin jatuh dan derai gerimis kini telah berubah menjadi tirai hujan yang membasahi pasar itu dengan derasnya, sedangkan perempuan denok berkemben hijau itu telah menghilang dalam langkahnya yang amat cepat.

Golek golek..capunge tak golek golek
Capunge golek golek dewe...
Golek golek...capunge tak golek wae..
Capunge golek golek dewe..
Capunge tak golek dewe..
Capunge modar kuwi...
golek golek...tak golek kuwi...~

Senja telah jatuh dan keriuhan akan semakin menggemuruh menghiasi pertarungan dari hari ke hari.


( See ya in the next note...)

Senin, 18 November 2013

PERAWAN DARI HUTAN LARANGAN

Bagian Ke-lima

Hutan larangan itu masih menyisakan pekat kesunyian yang mencekam . Tiga hari tiga malam lamanya Cheng Yi Lin tak sadarkan diri . Rasa duka untuk kedua kalinya telah membuat kesadarannya hilang , seakan semua nadinya tak lagi ingin berdetak . Kali ini dia harus kehilangan seorang guru , pembimbing dan seorang perempuan yang sudah dianggapnya sebagai ibu . Orang yang selama belasan tahun ini telah memberinya begitu banyak hal .

Pada hari ketiga dan siang pun telah sampai kepada puncaknya , Cheng Yi Lin tersadar dengan rasa sakit yang terasa amat sangat dikepalanya . Sejenak Cheng Yi Lin kebingungan dengan keadaan sekelilingnya . Namun ketika dilihatnya tubuh sang guru masih duduk dalam keadaan bersila dan kaku , menyentak hati dan emosinya . Hanya saja kali ini Cheng Yi Lin tidak lagi berteriak atau menangis keras. Dengan penuh hormat Cheng Yi Lin berlutut dihadapan jasad gurunya sambil berurai air mata . Cheng Yi Lin memberikan tiga kali sujud kepada gurunya itu , seperti yang pernah diajarkan kepadanya .

Cheng Yi Lin menatap jasad gurunya itu dengan takjub. Wajah gurunya begitu damai dan dari tubuh itu menyeruakkan hawa harum yang tak pernah ditemuinya selama ini .

" Gu...ru..I..bu....maafkan Yi Lin...maafkan Yi Lin.." bisiknya lirih, ada rasa tak rela dengan kepergian sang guru yang begitu cepat dan sesal karna selama bertahun-tahun sang guru tak pernah sekalipun mendengarnya bicara .
................
~ Suatu hari nanti, aku ingin kau mencari bibi gurumu yang juga kakak kandung gurumu ini. Namanya Cheng Yue Lin. Dia tinggal di daerah Simongan , pantai utara . Perjalanan kesana paling tidak butuh dua hari tetapi tidak perlu buru-buru, engkau bisa melakukannya kapan saja...~
.................
~ Bibi gurumu itu menguasai ilmu Pedang Naga Giok Langit dan engkau harus menguasainya. Kami pernah berjanji bila salah satu dari kami memiliki murid, maka yang lain harus mengajarkan ilmu andalannya. Bibi gurumu itu tak pernah punya murid, jadi dia harus mengajarimu ilmu itu....~ 
.....................
~ Ingat , diluar sana engkau harus hati-hati karna banyak orang jahat yang ingin mengusik. Itulah sebabnya engkau harus menemui bibi gurumu terlebih dahulu dan memperdalam ilmu disana , barulah engkau boleh merantau kemana engkau suka..~
.....................
Terngiang-ngiang pesan yang pernah didengarnya dari sang guru dan kini seakan diulang kembali oleh jasad sang guru untuk mengingatkan Cheng Yi Lin akan tugas yang harus dilakukannya nanti . Sekali lagi Cheng Yi Lin melakukan sujud kepada sang guru lalu beranjak keluar dari pondok mereka .

Cheng Yi Lin berjalan cepat menuju air terjun dimana mereka sering berlatih dan gurunya amat menyukai tempat itu . Dia dan gurunya seringkali bermeditasi disana untuk melatih tenaga dalam yang mereka miliki . Gadis itu membawa sebuah cangkul dan setelah melihat-lihat arah matahari terbit akhirnya dia menemukan sebuah tempat dibawah pohon besar yang menghadap datangnya matahari terbit.

Cheng Yi Lin mulai menggali lubang untuk jasad gurunya . Dengan kemampunan tenaga dalamnya yang makin hebat , Cheng Yi Lin tidak menemui kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaan itu . Dalam waktu singkat pekerjaan itu telah selesai dan Cheng Yi lin kembali ke pondok untuk mengambil jasad gurunya .

Tanpa ada suara isak tangis sekalipun air mata tak henti-hentinya mengalir diatas wajah cantik itu , Cheng Yi Lin terpaksa mendudukkan tubuh kaku sang guru kedalam lubang yang telah digalinya itu dan dialasinya dengan batu-batu kecil sehingga tidak akan mengotori pakaian sang guru , begitu pikirnya .

Dengan telaten gadis itu menumpuk batu-batu disekeliling jasad itu sehingga menutupinya , baru kemudian lubang itu ditutupinya dengan tanah bekas galian tersebut. Tak hanya sampai disitu , Cheng Yi Lin ingin memastikan tidak ada yang mengusik kuburan sang guru sehingga diatas kuburan itu diberinya sebuah batu sungai yang besar . Batu itu juga sebagai penanda bila kelak dia kembali sehingga akan sangat mmudah menemukan kuburan gurunya .

Setelah selesai dengan pekerjaannya , Cheng Yi Lin tidak lupa menyalakan gaharu atau hio , yang biasa dilakukan oleh mendiang gurunya dulu . Gadis itu hanya tahu sedikit dari ajaran gurunya tentang tata cara sembahyang warisan leluhur sang guru. Cheng Yi Lin tak peduli . Yang penting baginya adalah menghormati gurunya melebihi siapapun dan apapun yang dilakukannya itu bukan urusan orang lain .

Kini wajah cantik itu tidak lagi menangis atau berurai air mata . Cheng Yi Lin sudah bisa menguasai perasaannya kembali . Semua itu memang harus terjadi dan kalau memang terjadi maka tidak akan bisa dihindari .

" Yi Lin anakku , hidup ini hanya sekali . Semua orang pasti mati , entah karna sakit atau tua , entah karna terluka atau kecelakaan . Apapun bentuknya manusia , yaitu kita semua , akan kembali kepada sang pencipta kita . Jadi janganlah kita terlalu lama bersedih atas kehilangan yang nanti akan terjadi pada kita karna semua itu adalah takdir..." begitu gurunya pernah berkata.

" Siancay...siancay...Thian maha agung , anakku Yi Lin..suatu hari nanti Thian akan membuka semua kesedihanmu dan memberikan jalan bagi kehidupanmu kelak... Siancay...siancay...Thian maha agung..." semilir angin menerpa siang itu dan tempat dimana Cheng Yi Lin sedang bersimpuh didepan kuburan gurunya . Dalam desauan angin itulah Cheng Yi Lin bagaikan mendengar suara bisikan gurunya sendiri dan bulu kuduknya meremang. 

" Terima kasih guru...terima kasih ibu...engkau telah memberikan segalanya bagiku selama ini...Yi Lin akan mematuhi segala perintah dan harapan guru untuk mencari bibi guru...Ijinkanlah Yi Lin menemani guru selama beberapa waktu supaya tempat ini tidak diusik orang..." ucap Cheng Yi Lin sambil berkali-kali sujud dan tak peduli betapa perutnya terasa perih karna sudah tiga hari ini dia tidak makan apapun .

Cheng Yi Lin terus menyalakan gaharu buat sang guru dan dan membakar uang-uang kertas untuk upacara keagamaan yang dimiliki gurunya semasa hidup . Cheng Yi Lin sendiri tidaklah terlalu mengerti namun tujuannya adalah menghormati guru yang amat disayanginya itu . Gadis itu melakukan kegiatannya sampai menjelang senja . Barulah kemudian dia kembali ke pondok dan mulai menanak nasi untuk makannya sendiri . Ada rasa sepi yang menyergapnya . Pondok itu kini rasanya tidak lagi sama . Ada rasa aneh disana . Cheng Yi Lin merasakannya namun tetap bertekad untuk bertahan beberapa hari lagi sampai masa berkabung itu bisa ditinggalkan .

Tak terasa hampir lima belas tahun sudah sejak kedatangannya dulu . Empat purnama lagi maka genaplah usianya menjadi dua puluh tahun . Namun Cheng Yi Lin tidak mau peduli . Sekarang perlahan-lahan dia berusaha menggali kembali ingatannya akan peristiwa pembantaian keluarganya dulu . 

Satu-satu wajah para penyamun yang telah membantai keluarganya itu, terpatri dalam benaknya dengan kuat. Keberingasan mereka terhadap keluarganya telah memasung suara dan menghancurkan hatinya.Wajah-wajah beringas ke enam penyamun itu membekas dan akan selalu diingatnya, suatu hari nanti dia akan membalasnya dengan kekejian yang tak terperikan.

Namun Cheng Yi Lin tidak mau tergesa , akan tiba waktunya untuk membalas semua itu . Dia ingat akan pesan sang guru dan akan memenuhi semua pesan itu demi untuk memberikan rasa hormatnya yang tak terhingga . 

Cheng Yi Lin tinggal di pondok itu sendirian sampai purnama kembali datang, artinya dia telah melewati hari ke-empat belas setelah kematian sang guru. Ada keinginan untuk pergi meninggalkan tempat itu dan memenuhi pesan gurunya untuk mencari sang bibi guru . Namun dia ingin memastikan bahwa pondok itu akan baik-baik saja sepeninggalnya nanti . Dengan telaten gadis itu membuat beberapa perlindungan bagi pondok itu agar tetap utuh walaupun ditinggal pergi.

~ Golek golek..capunge tak golek golek
Capunge golek golek dewe...
Golek golek...capunge tak golek wae..
Capunge golek golek dewe..
Capunge tak golek dewe..
Capunge modar kuwi...
golek golek...tak golek kuwi...~

Sembari bekerja , bibirnya melantunkan tembang dolanan yang telah mendekatkan dirinya dengan sang guru. Cheng Yi Lin tidak peduli dengan artinya sendiri. Yang dia tahu , tembang dolanan itu membuat dirinya merasa tenang dan lagi pula bisa mengurangi sedikit akan kerinduannya pada sang guru.

Sesekali tampak mencuat seringai ganas dibalik bibirnya yang melantunkan tembang dolanan jenaka itu . Dua hari yang lalu ketika mencoba menelusuri bagian luar dari hutan larangan ini ,telah membuatnya mengalami kerasnya dunia . Dan untuk pertama kalinya dia telah membunuh orang-orang yang bersikap tak senonoh kepadanya .

Kelima begundal itu tercekat dan masing-masing memegang lehernya dengan erat . Mata mereka kini terbeliak tanpa bisa mengeluarkan kata-kata rayuan lagi.

Perempuan muda bertubuh sintal nan molek itu terus tertawa merdu dengan pandangan mata berkilauan.

~ hihihihihihihihi....kalian telah lancang padaku, terimalah hukumannya..~ desisnya pelan, ~ tak ada lelaki yang bisa hidup setelah melihat tubuhku dan menghinanya....~ seraya melangkahkan kakinya menuju hutan larangan dari mana tadi dia datang.

Namun kejadian itu tidaklah terlalu memberatkan Cheng Yi Lin . Bahkan dia tidak terlalu peduli kenapa perbuatan para begundal yang mencoba mengusiknya itu harus ditebus dengan melayangnya nyawa mereka . Gadis itu terus bekerja untuk memastikan pondok mereka aman dari siapapun. Setelah purnama ini berlalu maka Cheng Yi Lin telah memutuskan akan memulai perjalanannya mencari sang bibi guru Cheng Yue Lin di daerah Simongan , yang dia sendiri tidak tahu kemana arahnya . Namun gurunya telah mengajarkan bagaimana harus mencari cara supaya bisa mendapatkan keterangan dari para penduduk setempat .

Sementara itu diluar hutan larangan para penduduk desa dihebohkan dengan penemuan ke lima mayat para begundal yang nasibnya amat tragis itu . Walaupun mereka dikenal sebagai kelompok yang sering meresahkan masyarakat disekitar desa mereka , tetap saja kematian mereka menimbulkan geger . Maka makin ramai perbincangan mereka yang membuat keangkeran hutan larangan semakin jadi mengerikan untuk didatangi .

Adalah desa Kinahrejo , sebuah desa di kaki gunung merapi yang berdekatan dengan lokasi penemuan mayat para begundal itu. Sebuah desa pertanian yang amat subur dan menjadi tempat peristirahatan para pedagang maupun orang-orang yang ingin melintasi lereng merapi. Desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa yang juga merangkap sebagai kuncen atau juri kunci gunung merapi yaitu Kanjeng raden ayu Sintarinijelokpete yang masih kerabat sangat jauh dari kraton kerajaan . Kuncen ini lebih dikenal sebagai Mbah Jelokpete , yang kini usianya telah mencapai enam puluh enam tahun tetapi pakaiannya masih tampak ganjen.

Ramainya pergunjingan didesa Kinahrejo itu cukup menarik perhatian seorang perempuan yang dari pakaiannya tampak terlihat memiliki kemampuan silat.Ternyata dia adalah murid pertama Nyi Kikinauli Kumahaeta atau yang lebih sering dikenal sebagai Nyi Pandera Wirogeni dari riungan Gunung Kidul. Yaitu Ni Prili Junetto alias si Bengal Kucing Mabuk. Seorang perempuan dewasa yang mengenakan kemben merah dan celana hitam selutut dengan sebuah kendi arak dipinggang kirinya serta sebuah clurit dipinggang yang lain. Rambutnya terikat tali rami warna warni. Wajahnya cantik-cantik judes.

Entah kemana guru dan adik-adik seperguruannya pergi . Tampak juga Ni Prili Junetto alias si Bengal Kucing Mabuk tak begitu peduli . Sepertinya dia sedang menunggu kedatangan seseorang yang akan menemuinya di warung makan di desa tersebut . Beberapa botol tuak menemaninya disamping sepiring pete dan sambel serta ikan gabus asin yang menantang bersama sayur asem . Begitu pula sebakul nasi hangat mengepul didepannya . Rasa bosan menunggu membuat perempuan itu bersemangat menerkam hidangan didepannya tanpa melepaskan pendengarannya akan gunjang ganjing para penduduk disitu .

Gaya duduknya pun seronok dengan satu kaki terangkat di bangku dan clurit dipinggangnya itu menjadi satu-satunya benda yang bisa membuat ciut nyali siapapun yang merasa tertarik kepadanya .

" Siapa yang mati , pak ? Kenapa bisa mati ? Dimana kejadiannya ? " tanya perempuan itu sembari menyuapkan segenggam pete bercampur sambal pedas kemulutnya. Yang ditanya adalah seorang pelayan tua , yang sempat meneguk ludahnya sendiri melihat kelahapan perempuan itu makan .

" Begundal-begundal yang suka mengusik di sekitaran desa ini, non.." jawab sang pelayan pelan . " kejadiannya didekat sungai kecil dibatas hutan larangan yang menuju ke lereng . Mungkin dibunuh sama demit kali , non...lehernya pada putus semua...ada lima orang...hanya itu non ceritanya..." lanjutnya sambil cepat bergegas pergi sebelum mendapat makian si pemilik warung.

Ni Prili Junetto alias si Bengal Kucing Mabuk hanya manggut-manggut tanpa menghentikan keasyikannya melahap makanan itu . Namun kehadirannya tidak lepas dari perhatian para pengunjung warung makan itu . Maklum , sikap dan keseronokan perempuan itu sangatlah mencolok mata .

Ketika perempuan itu sedang menikmati makanannya , masuklah seorang pemuda yang berperawakan sedang kedalam warung itu . Dari wajahnya tampak nyata bahwa pemuda itu berasal dari keturunan Tionghoa sekalipun pakaiannya sederhana dan tidak berlebihan , kecuali sebuah golok yang terselip diantara tali temali yang mengikat bawaannya . Tampaknya pemuda yang berwajah lumayan tampan itu sedang dalam perjalanan jauh dan ingin beristirahat disitu .

Sejenak pemuda itu kebingungan karna tidak mendapatkan tempat namun kemudian matanya tertumbuk pada satu meja dimana seorang perempuan sedang asyik menyantap makanannya , yaitu Ni Prili Junetto dengan satu kakinya naik diatas bangku panjang itu . Pemuda itu kemudian memberanikan diri menuju ke meja yang sedang ditempati perempuan tersebut .

" Maafkan saya , kisanak...bolehkah saya berbagi tempat disini ? " tanyanya sopan sambil menunjuk bangku diseberang perempuan itu yang kosong .

Mulanya perempuan itu acuh tak acuh mendengar suara sopan itu . Namun ketika wajahnya terangkat dan menatap wajah pemuda didepannya itu , segera saja sikap tak acuh itu berubah . Ada debar melanda hatinya . Dasar ganjen !

" Silahkan...toh, tak ada yang berani duduk disitu.." jawabnya santai walau jantungnya berdebar kian kencang . Dalam hati Ni Prili memaki kesal .

" Terima kasih , kisanak..." angguk pemuda itu senang dan langsung duduk setelah menaruh barang bawaannya agar tidak mengganggu .

Pemuda itu kemudian memesan makanannya sambil menelan air ludahnya sendiri ketika melihat betapa lahap perempuan didepannya itu berperang dengan beberapa jenis makanan yang cukup untuk beberapa orang itu . Sedangkan dia hanya memesan air putih dan sepiring nasi dengan ikan goreng serta sambal. Tentunya dia tidak bisa seenaknya menghabiskan persediaan uangnya untuk keperluan makan sedangkan perjalanan yang harus ditempuhnya masih jauh.

Sembari makan , mata perempuan itu sempat pula melirik barang bawaan si pemuda dan berusaha untuk menyembunyikan sikap menyelidik dengan bawaan golok yang tampak bukanlah benda sembarangan .

" Engkau siapa , kisanak dan hendak kemana ? " akhirnya Ni Prili Junetto tega juga mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi menggelitik hatinya.

Pemuda itu mengangguk dengan sekilas senyum dan tetap dalam kesopanannya.

" Saya hanyalah seorang pengantar barang titipan dari kota Simongan dan hendak menuju ke Surakarta..." jelas pemuda itu pelan . " Nama saya Lin Jun Yuan, anggota biasa dari perusahaan pengiriman barang Elang Laut dari Simongan.." lanjutnya lagi memperkenalkan diri .

Ni Prili Junetto hanya manggut-manggut namun didalam hatinya dia agak kaget bertemu dengan anggota Elang laut dari Simongan yang belakangan amatlah terkenal . Kebanyakan para perompak dan bandit akan berpikir ulang untuk mengusik mereka ini karna selain memiliki kepandaian silat yang hebat , mereka juga dekat dengan para pejabat kota disepanjang jalur utara maupun selatan.

Dia tidak ingin meremehkan pemuda itu namun juga ingin sekali mengetahui kehebatan lelaki yang sedikit banyak telah menarik hatinya itu. Namun sebagai murid pertama Nyi Pandera Wirogeni dari riungan Gunung Kidul dan sarat dengan pengalaman selama belasan tahun malang melintang bersama gurunya , tentu pula dia tidak akan bertindak dengan gegabah .

" Oh...rupanya kisanak berasal dari sebuah perguruan hebat di utara..pantas saja berani melakukan perjalanan seorang diri dengan bawaan segini banyak.." jawab Ni Prili memuji sambil ingin pula menguji ( dasar ganjen , bilang saja ingin ngobrol sama lelaki tampan..., umpat hatinya meradang ).

" Terima kasih , tetapi saya tidak berani menerima pujian kisanak.." senyum pemuda itu lagi dan nyaris membuat Ni Prili melompati meja serta memperkosa pemuda tersebut, " kalau boleh tahu , siapakah kisanak ini ? Tampaknya kisanak bukanlah orang sembarangan dan tentunya memiliki kepandaian sangat tinggi sehingga berani melakukan perjalanan seorang diri..." lanjutnya sambil menatap tajam kepada perempuan didepannya itu .

Ni Prili Junetto terkekeh dan bau pete segera menyambar keudara. Betapa senang hatinya mendengar tutur kata dari pemuda itu . Hatinya nyaris jatuh cinta.

" Aku Ni Prili Junetto . Aku berasal dari riungan Gunung Kidul.." jawabnya sedikit jengah dengan perasaannya sendiri .

" Oh..., rupanya murid Nyi Pandera Wirogeni yang terkenal di seluruh pantai selatan ? " pemuda itu segera merangkapkan kedua tangannya memberi rasa hormat kepada perempuan yang bernama Ni Prili Junetto itu . Tentu saja hal itu adalah etika sebuah perusahaan pengawal dan pengiriman barang dalam menempatkan diri diantara pejabat daerah maupun para bandit jalanan . Itu juga sebagai isyarat bahwasanya mereka tidak akan pernah mundur dan akan tetap mempertahankan barang bawaan mereka dari siapapun yang hendak merampasnya .

" Sudahlah , jangan terlalu basa-basi..." geleng Ni Prili sedikit lagi pingsan dengan rasa jengahnya dalam pujian pemuda itu .

Pemuda itu tertawa kecil dan mulai menikmati makanan yang sudah dipesannya tadi . Sejenak tak ada pembicaraan diantara mereka karna pemuda itu makan dengan sigapnya dan tidak menampakkan sedikitpun rasa ingin berlama-lama.

Ni Prili Junetto dengan leluasa memperhatikan pemuda yang bernama Lin Jun Yuan itu setelah terjalin pembicaraan diantara mereka .Sepertinya hendak menakar seberapa hebat kepandaian silat pemuda ini ? Ni Prili menjadi jengah sendiri dengan perasaannya yang ingin segera menggumuli pemuda tersebut.
~
Sementara itu Cheng Yi Lin sudah selesai dengan pekerjaannya . Gadis itu tampak puas setelah berhasil menutup pondok itu dengan berbagai batang pohon yang bisa dipindahkannya maupun dengan pohon-pohon yang telah mati. Kini Pondok yang dulu mereka tempati hampr nyaris tertutup dan tidak menimbulkan niat orang untuk menempatinya . Satu buntalan pakaiannya dan beberapa benda pribadi milik gurunya telah siap menanti petualangannya kedunia luar nan buas. Namun tidak sedikitpun gadis itu merasa rikuh , bahkan wajahnya menampakkan rasa percaya diri yang amat kuat sekalipun tidak bisa memungkiri bahwa ada perasaan sedih harus meninggalkan tempat tersebut .

" Ibu...guru...Yi Lin akan pergi sekarang. Suatu hari nanti Yi Lin akan kembali kesini dan tinggal menemani ibu..." ucapnya sambil sekali lagi bersujud didepan makam guru yang dianggapnya juga sebagai ibu .

Cheng Yi Lin melangkah dengan riangnya dan tampak menikmati setiap desah napas yang mengiringinya hari itu . Purnama telah lewat semalam dan ini adalah hari baru baginya . Sebuah perjalanan untuk mencari harapan . Dan membalas dendam ! Cheng Yi Lin menyimpan dengan hati-hati selendang merah milik gurunya itu dan hari ini pakaiannya cukup ringkas . Celana selutut warna merah kusam dan kemben kuning dengan garis-garis hitam dan biru tampak amat serasi dengan sebuah sabuk merah . Rambutnya yang panjang dan indah itu tampak begitu menggoda dengan ikatan-ikatan pita merah dan kuning yang saling silang mengisi kuncirannya . Dan yang tak kalah pentingnya adalah Cemeti lengkingan Naga yang kini melingkari leher jenjangnya bagaikan manikam yang berkredepan kala sinar matahari menimpanya . Tak lupa juga dengan kalung pemberian salah satu murid Nyi Pandera Wirogeni tempo hari. 

Kali ini Cheng Yi Lin tidak melalui jalan dimana dia tempo hari bertemu dengan para begundal yang akhirnya tewas ditangannya itu . Cheng Yi Lin sengaja memilih jalan yang berbeda dan turun dari lereng merapi itu melalui desa yang bersebelahan dengan desa Kinahrejo . Selain tidak ingin perjalanannya terusik gadis itu juga ingin menikmati suasana yang berbeda . Dulu Cheng Yin Fei , gurunya pernah mengajaknya melewati jalan yang banyak ditumbuhi oleh tanaman buah rambutan tersebut .

Dengan riang Cheng Yi Lin menelusuri jalanan berkelok yang menuju ke kaki gunung dan kali ini dia harus menghadapi segala sesuatunya sendirian . Sebuah buntalan yang lumayan besar diikatnya dengan rapi agar tidak mengganggu perjalanannya. Setelah melewati beberapa desa sampailah Cheng Yi Lin pada sebuah desa yang cukup ramai dan hamparan padi menghijau memenuhi sawah-sawah yang sangat memanjakan mata yang melihatnya .

Cheng Yi Lin tidak tahu desa apa atau dimana harusnya dia berada kalau ingin menuju ke Simongan . Tetapi itu tidak mengecilkan hatinya dan dia percaya bahwa ruh sang guru akan membimbingnya . Sekantong uang peninggalan sang guru disimpannya dengan sangat hati-hati dan tatapan matanya tak pernah lepas dari segala situasi dimanapun dia melangkah .

Cheng Yi Lin terpaksa berteduh karna siang itu hujan mengguyur dengan derasnya dan kebetulan didekat patok batas desa itu Cheng Yi lin menemukan sebuah pondok tanpa dinding dan sebuah ambin reyot . Cheng Yi Lin segera berhenti berteduh dan hanya bisa menatap derasnya hujan yang turun . Tak lama kemudian datang pula seorang perempuan seumuran dirinya yang berlari-lari menghindari hujan. Sang perempuan itu kuyup dengan kebaya tipis yang menutupi kemben yang meliliti tubuhnya . Perempuan itu sibuk mengibas air hujan yang membasahi tubuhnya dan Yi Lin hanya sekilas melirik.

" Ampuuunnn ini hujan koq gedeee sekali turunnya..." gerutu si perempuan berkebaya itu sedikit kesal, " Sampuuunnn...nona mau kemana ? " lanjutnya lagi sambil menatap Cheng Yi Lin yang juga melihat kearahnya.

" Simongan..." jawab Cheng Yi Lin merasa kebetulan ," masih jauhkah ? " tanyanya lagi .

" Walaaahhh...Simongan masih jauh sekali, non...setelah melewati desa ini beloklah ke arah utara, terus saja menuju ke utara sampai nanti ketemu sama pantai..." jelas perempuan berkebaya itu dengan logatnya yang medok.

" Terima kasih..." angguk Cheng Yi Lin tersenyum kecil, " kisanak mau kemana ?" Yi Lin balik bertanya.

" Aku mau ke Limbarawa , non...Oh, iya..kalau non tidak keberatan kita bisa jalan bersama karna kalau mau ke Simongan juga melewati Limbarawa.." wajah perempuan itu kini berseri-seri . " Namaku Sekar...Sekar Kusumadewi..." ujar perempuan yang kuyup kebayanya itu.Perempuan itu tak sadar rupanya rasa dingin hujan telah membuat puting payudaranya mencuat dari balik kebaya kuyupnya.

Dengan sedikit enggan Cheng Yi Lin terpaksa mengangguk dan memberikan sedikit senyum kepada perempuan yang bernama Sekar Kusumadewi itu . Dadanya yang montok itu dan putingnya yang mencuat karna kedinginan kelihatan menantang para lelaki berebutan ingin menikmatinya .

" Namaku Yi Lin..Cheng Yi Lin.." 

" Nama yang cantik dan amat serasi dengan orangnya..." kata si kebaya kuyup Sekar memandang sedikit takjub kepada perempuan cantik didepannya itu.

Keduanya saling melempar senyum dan tiba-tiba tampaklah seorang perempuan lagi memasuki pondok tana dinding itu untuk berteduh dari hujan . Sejenak mereka diam menyaksikan perempuan yang baru tiba itu mengibas-ngibaskan reruntuhan air yang melekat ditubuhnya yang juga sudah basah .

" Kauuu....?" wajah perempuan itu menampakkan rasa terkejut ketika pandangan nya bertemu dengan Cheng Yi Lin .

Dia adalah murid keenam Nyi Pandera Wirogeni dari riungan Gunung Kidul: Ni Sari Ratna Gandulecapung alias si Bengal Kucing Ragil. Wajahnya tampak galak namun tertutup oleh senyum dan sinar matanya yang tajam. Mengenakan kemben biru lurik kuning dan celana merah selutut. Kini mata itu terbelalak melihat Cheng Yi Lin yang telah menghancurkan gelang-gelang miliknya dalam satu dua jurus pertempuran dua purnama yang lalu .

Cheng Yi Lin hanya menatapnya dengan pandangan dingin dan menyatu dengan derasnya hujan yang tercurah dari langit siang itu. Wajah Ni Sari Ratna Gandulecapung alias si Bengal Kucing Ragil terlihat masih menyisakan rasa kesal karna kekalahan waktu itu . Tangannya mengepal dan dadanya turun naik menahan keinginan untuk bertempur kembali dengan Cheng Yi Lin , namun kondisi hujan itu membuatnya sedikit menahan diri .

" Kalian saling mengenal ? " dengan polosnya si kebaya kuyup Sekar Kusumadewi menatap keduanya bergantian dan dapat merasakan ketegangan yang ada .

" Iya , kami pernah bertempur..." jawab Ni Sari Ratna Gandulecapung dengan nada sinis, " Engkau beruntung karna guruku lukanya nyaris sembuh dan untuk itu aku sangat berterima kasih walaupun urusan kita belum tuntas.." lanjutnya dengan suara masih menyisakan rasa sesal .

Cheng Yi Lin tidak memberikan reaksi berlebihan dan hanya mengangguk kecil tanpa melepaskan kewaspadaannya terhadap murid Nyi Pandera Wirogeni yang telah membuat gurunya terluka dan akhirnya meninggal dunia itu . Cheng Yi Lin harus mematuhi perintah gurunya untuk tidak menaruh dendam terhadap kejadian itu .

Sejenak hanya terdengar derai hujan lebat mengisi keheningan di pondok reyot itu dan masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri . Si kebaya kuyup Sekar Kusumadewi tampak bergantian menatap kedua perempuan yang baru ditemuinya itu bergantian . Entah apa yang ada dalam benaknya namun sesekali matanya memancarkan kilatan yang coba disembunyikannya .

Cheng Yi Lin tak lagi terusik . Pandangan matanya tertuju pada derasnya hujan dan pekatnya kabut yang mengikuti . Di penghujung jalan yang tadi dilewati oleh Cheng Yi Lin tampak sebuah bayangan melesat mendatangi mereka. Dan hanya dalam waktu singkat bayangan itu telah memasuki pondok reyot itu tanpa basa basi lagi . Ketiga perempuan itu sedikit terperangah dengan kehadiran sosok yang ternyata juga seorang perempuan itu . Wajahnya cantik dan dagunya sedikit runcing namun memiliki senyum menarik dan pandangan mata yang teramat tajam.

" Maaf..numpang berteduh disini , kisanak.." ucapnya pelan sembari menakar ketiga perempuan yang terlebih dahulu berada disitu .

Ketiganya hanya mengangguk tak acuh . Sedangkan perempuan yang usinya kira-kira di kepala tiga itu menatap penuh perhatian kepada Cheng Yi Lin yang tampak begitu mengesankan penampilannya walaupun wajah cantik itu terlihat dingin . Terutama perhatiannya tertuju pada benda yang tampak meliliti leher jenjang itu dan jelas terlihat bahwa itu tentunya sangatlah berharga.

" Namaku Tan Shien Li dari marga Tan di pantai utara Simongan..." kata perempuan itu dengan sedikit pongah, " kalau boleh tahu , siapakah para kisanak ini ? " tanyanya kemudian .

Mendengar nama marga Tan disebut , tampaklah perubahan wajah Ni Sari Ratna Gandulecapung, mendadak jadi sedikit pucat . Nama marga itu merupakan sebuah marga yang menakutkan disepanjang pantai utara Simongan . Reputasi keluarga itu sudah merambah ke seantero pulau namun bagi Cheng Yi Lin , nama itu tak berarti apa-apa . Mungkin karna pengalamannya didunia luar masih sangatlah sedikit sehingga tidak terlalu menakutkan baginya . Sedangkan bagi para pengikut Nyi Pandera Wirogeni , nama itu tidaklah bisa dianggap sebelah mata.

Apalagi nama perempuan itu mengingatkan dirinya , bahwa inilah salah satu anggota keluarga dari marga Tan yang sangat tinggi ilmu kesaktiannya dan juga teramat kejam terhadap orang-orang yang menentang mereka .

" Namaku Sekar Kusumadewi dari Limbarawa.." jawab si kebaya kuyup terdengar tak bernada dan bagi yang berkepandaian tinggi tentu dapat menangkap nada yang sedikit meremehkan didalamnya .

" Aku Ni Sari Ratna Gandulecapung , dari riungan gunung kidul..." sambung Ni Sari masih dengan nada percaya diri walaupun dalam hatinya sungkan untuk berbenturan dengan anggota keluarga marga Tan itu .

Tan Shien Li hanya mengangguk tanpa banyak reaksi sedangkan matanya menatap lurus kepada Cheng Yi Lin yang tampak acuh tak acuh dengan semuanya itu.

" Ada apa murid Nyi Pandera Wirogeni sampai berkeliaran didaerah merapi ini?" tanyanya sepintas lalu dan matanya mengerling kepada pemilik nama tadi .

" Hmmm...aku kira siapapun bebas kemana dia mau pergi. Aku tidak berrmaksud melanggar hak siapapun disini.." jawab Ni Sari Ratna Gandulecapung dengan sedikit ketus , agak tersinggung dengan sikap remeh yang diperlihatkan oleh anggota keluarga marga Tan ini. Namun dia juga tidak ingin berbenturan langsung dengan mereka .

" Terserah.." tanggap Tan Shien Li dengan dingin," Dan siapakah kisanak ini? " tanyanya kemudian kepada Cheng Yi Lin dengan tajam .

Sejenak tidak ada jawaban dari yang ditanya . Kemudian perlahan Cheng Yi Lin menatap sang penanya Tan Shien Li dengan tatapan mata lugu.

" Namaku Cheng Yi Lin ..." jawabnya singkat .

Mendengar nama itu , Tan Shien Li mengerutkan keningnya dan pikirannya berkecamuk karna nama itu tak berarti apa-apa baginya . Namun melihat perawakan wajah perempuan yang mengaku bernama Cheng Yi Lin itu , dia meradang karna jelas bahwa perempuan itu bukan keturunan tiongkok pada umumnya.

" Hmm...nama kisanak memang nama yang berasal dari daratan tiongkok , namun mengapa wajah kisanak tidak menggambarkannya ? " tanya Tan Shien Li penuh selidik untuk memenuhi rasa ingin tahunya .

" Itu nama pemberian guruku dan aku sangat menghargainya.." jawab Cheng Yi Lin mendesis tajam, rasa tidak sukanya sedikit terangkat.

" Oh..begitu rupanya..." terdengar nada meremehkan dari mulut Tan Shien Li," marga Cheng mengingatkan aku akan nama dua orang pendekar wanita yang sangat dihormati kalangan perantau . Kalau tidak salah namanya Cheng Yue Lin dan Cheng Yin Fei . Yang manakah gurumu itu ? " kejar Tan Shien Li ketus.

Cheng Yi Lin tidak langsung menjawab dan hanya membalas tatapan mata Tan Shien Li yang sedikit menyiratkan api itu .

" Guruku Cheng Yin Fei , beliau juga adalah pengganti ibuku yang sangat kuhormati dan kusayangi.." jawab Cheng Yi Lin tenang, " Ada masalah apakah engkau dengan guru dan bibi guruku itu ? " tanyanya membalas.

" Hemm...tak kusangka aku bisa bertemu dengan murid seorang pendekar wanita yang berjuluk Ang I Nio Cu ( Dewi Selendang Merah ) disini..." gumam Tan Shien Li dengan nada sinis. " Guruku , Pek Mao Siang Cu pernah mengingatkan aku untuk berhati-hati bila bertemu dengan Ang I Nio Cu. Tapi kalau hanya muridnya untuk apa aku takut ? " sambungnya menantang dengan terbuka .

Cheng Yi Lin tidak menanggapi tantangan itu dan hanya memandang tak begitu mengerti dengan omongan Tan Shien Li . Maklumlah , gurunya hampir tidak pernah bercerita tentang musuh-musuhnya ataupun tentang pergualan dunia persilatan kepadanya . Gurunya hanya mengajarkan kebaikan dan kasih .

Sedangkan Ni Sari Ratna Gandulecapung dan Sekar Kusumadewi hanya diam mendengar ketegangan diantara kedua perempuan itu .

Cheng Yi Lin hanya mendengus dan tampak tak begitu peduli . Hujan deras yang hanya bisa mengusik ketenangannya . Persoalan tantangan itu sama sekali tidak membuat nyalinya ciut .

" Aku tidak mengerti apa urusanmu dengan guruku atau bibi guru...dan aku tidak juga mengerti untuk apa engkau banyak bertanya..." jawab Cheng Yi Lin tenang.

" Hemm...rupanya engkau hanya muridnya yang masih hijau..." gelak Tan Shien Li coba memanas-manasi lawannya." Tak kusangka Ang I Nio Cu yang terkenal itu hanya memiliki seorang murid yang tak tahu apa-apa tentang dunia persilatan . Jadi , apanya yang mau dibanggakan ? " ujarnya lagi dan kali ini dengan nada yang sangat menghina .

Cheng Yi Lin hanya tersenyum kecil dan sama sekali tidak tertarik meladeni hinaan tersebut . Sedangkan kedua perempuan yang lain agaknya mulai berhati-hati agar tidak terseret oleh ketegangan itu .

" Kenapa begitu hal ini penting bagimu ? " tanya Cheng Yi Lin masih tegar menguasai dirinya , mengingat dia harus melaksanakan janjinya kepada sang guru untuk mencari bibi gurunya . Itu semua lebih penting .

" Karna apa yang aku inginkan , pasti akan kudapatkan.." jawab Tan Shien Li dengan seringai bengis dan tamapk sedikit lucu dengan wajah cantiknya itu.

" Apa yang engkau inginkan itu ? " kejar Cheng Yi Lin dingin .

" Benda yang engkau kalungkan dilehermu itu..! " tunjuk Tan Shien Li tanpa merasa malu sedikitpun dan terang-terangan menginginkan benda yang melingkari leher Cheng Yi Lin tanpa mengetahui bahwa itu adalah senjata mematikan ditangan Cheng Yi Lin .

Suara tawa Cheng Yi Lin terdengar lirih dan menakutkan ditengah derasnya hujan. Suara tawa itu seakan bersahutan dengan desau angin yang berhembus namun sangat menyakitkan telinga dan membuat detak jantung terhunjak lebih cepat.

" Ini adalah pemberian guruku dan siapapun tidak akan pernah kuijinkan untuk mengambilnya dariku.." ujar Cheng Yi Lin sembari mengusap Cemeti Lengkingan Naga dilehernya itu .

Tiba-tiba tangan Tan Shien Li meraba sabuk di pinggangnya dan satu hentakan halus membuat sebuah pedang lentur tergenggam ditangannya dengan mengeluarkan suara tajam menyayat .

" Kalau kalian ingin berkelahi , lakukanlah diluar sana...pondok ini tempat berteduh dan bukan tempat bertempur..." tiba-tiba Sekar Kusumadewi menegur pelan namun tegas .

Tan Shien Li tidak memperlihatkan niatnya untuk mundur karna sifatnya yang teramat keras dan manja telah membentuknya jadi seorang perempuan kejam dalam lingkungan keluarga marga Tan dari Simongan yang amat terkenal itu .

Namun sebelum Cheng Yi Lin melakukan sesuatu , terdengarlah suara tertawa yang terdengar amat keras dan mengalahkan derasnya curahan hujan.

" Huahahahahahahahahahahahahahahaha......dasar muridnya Pek Mao Siang Cu. Guru kencing berdiri , muridnya kencing berlari...sama-sama ndablek.."

Suara tawa itu milik seorang lelaki paruh baya bertubuh pendek dan mengenakan penutup kepala dari benang rajutan warna warni dengan celana hitam sebatas lutut tanpa baju dan tanpa alas kaki. Entah dari mana datangnya lelaki itu dan tiba-tiba saja sudah berada di bawah sebuah pohon besar diseberang pondok reyot tersebut. 

Tan Shien Li meradang dan tangannya bergerak cepat kearah pinggangnya. Pedang lentur itu kembali masuk kesarungnya dan menjadi sabuk. Sedangkan tangannya yang lain melayang dengan kecepatan kilat menuju ke arah lelaki pendek diseberang yang sedang mentertawakan dirinya itu . Diantara derasnya hujan jarum-jarum halus itu seakan menyatu dan menembus dengan kecepatan kilat karna didorong oleh kekuatan tenaga dalam.

Namun si lelaki pendek itu tak mengacuhkan serangan tersebut dan membiarkan belasan batang jarum itu menancap ditubuhnya. Dengan sedikit malas lelaki itu mencabut satu per satu jarum itu dan membuangnya ke tanah dengan perasaan malas. Bahkan Tan Shien Li dapat melihat bahwa lelaki pendek itu memandang hina kepada jarum-jarum beracun miliknya itu .

Tentu saja hal itu membuat darahnya mendidih. Sekali lagi Tan Shien Li bergerak dan tangan kanannya yang kini melontarkan jarum-jarum senjata rahasia itu dengan himpunan tenaga dalam yang hebat. Tak hanya sampai disitu , bahkan kakinya pun menendang sebuah batu kerikil kearah lelaki pendek itu. Kali ini Tan Shien Li mengerahkan seluruh tenaga dalamnya dan tampaklah luncuran jarum-jarum beracun serta batu kerikil itu seakan membentuk satu lorong ditengah derasnya hujan !

"Ehem...ternyata lumayan juga murid si bangkotan tua Pek Mau Siang Cu. Hui pek ing ciam ( jarum putih menembus awan )...huhh ? Huahahahahahahaha..., katakan kepada si tua bangkotan itu untuk mengasah jarum-jarumnya lagi.." celoteh si lelaki pendek itu sembari menjejakkan kakinya kearah genangan air didepannya itu. Desingan jarum-jarum dan batu kerikil itu seketika rontok berjatuhan seperti membentur tembok saat bertemu dengan dinding air bekas hentakan kaki lelaki pendek itu.

Sekali lagi kehebatan si lelaki pendek itu mematahkan serangannya. Hal itu membuat darah Tan Shien Li makin mendidih dan kemarahannya semakin memuncak.

" Sialannn...! Siapakah engkau kisanak ? " bentak Tan Shien Li garang dengan suara melengking tajam .

" Huahahahahahaha....sampaikan salamku kepada si bangkotan tua Pek Mau Siang Cu , gurumu itu...kalau aku Hek San Kui ( Hantu Gunung Hitam ) Jau Tak Gai ( Jo toughguy ) telah kembali ke daratan ini.." jawab si lelaki pendek itu sambil tertawa .

Mendengar nama lelaki pendek itu , Tan Shien Li langsung pucat dan terkesiap. Kakinya langsung jatuh berlutut dan memberi hormat dengan sujud mendalam.

" Aaahh....maafkan murid telah berlaku kurang ajar , paman guru..." seru Tan Shien li dengan hormat, " maafkan murid tidak mengenali paman guru.." sambungnya lagi. Rupanya Hek San Kui(Hantu Gunung Hitam) adalah kakak seperguruan dari gurunya Pek Mau Siang Cu yang telah lama menghilang dan menurut kabar paman gurunya itu kembali ke daratan tiongkok .

" Huahahahahaha....Tak apa anak muda..." sahut Hek San Kui Jau Tak Gai dengan seringainya dan tampak menikmati dinginnya curahan hujan lebat itu . Dari badannya malah tampak mengepul uap seperti seperti ketel panas terkena air.

Tan Shien Li tampak bernapas lega , ternyata lelaki pendek iseng itu adalah paman gurunya dan bukan musuhnya . Kini dia mengalihkan pandangannya kembali kepada perempuan yang bernama Cheng Yi Lin itu . Sedangkan Ni Sari Ratna Gandulecapung dan Sekar Kusumadewi sedang bersiap seperti hendak pergi dari tempat itu . Keadaan tentu akan semakin runyam bila mereka terus berada disitu sedangkan untuk bertarung jelas itu bukan keuntungan bagi mereka .

" Yi Lin...sebaiknya kita segera pergi karna hujan takkan berhenti dalam waktu singkat. Kalau ingin bermalam sebaiknya kita berada di limbarawa.." ujar Sekar Kusumadewi sambil menatap Cheng Yi Lin . " Engkau boleh menginap ditempatku..." sambungnya lagi .

" Gunakan ini untuk membungkus bawaanmu supaya tidak basah..." Ni Sari Ratna Gandulecapung menyerahkan sehelai tikar lipat kepada Cheng Yi Lin. Entah apa yang dipikirkan murid Nyi Pandera Wirogeni ini . Mungkin dengan bersekutu dengan bersama , mereka dapat terhindar dari kesulitan dan dia sudah melihat sendiri kepandaian Cheng Yi lin beberapa waktu yang lalu.

" Kalian boleh pergi setelah dia menyerahkan benda dilehernya itu ! " bentak Tan Shien Li dengan garang , apalagi kini paman gurunya juga ada disitu.

Namun Cheng Yi Lin Tidak mengacuhkan bentakan itu dan menurunkan bawaannya di atas ambin . Sekar Kusumadewi segera membantu untuk membungkusnya dengan tikar lipat milik Ni Sari Ratna Gandulecapung tadi. Kedua perempuan itu melakukan pekerjaan tersebut dengan hati yang tidak tenang namun Cheng Yi Lin terlihat tidak begitu pusing .

" Hoohooo...siapakah perempuan-perempuan cantik ini ? " tanya Hek San Kui Jau Tak Gai sambil melangkahkan kakinya menyeberangi jalanan becek itu sambil menyeringai lebar .

" Mereka ini adalah muridnya Nyi Pandera Wirogeni , murid padepokan Limbarawa dan yang ini adalah..muridnya Ang I Nio Cu.."jelas Tan Shien Li sambil menunjuk ketiga perempuan didepannya itu satu per satu dan tampak sangat meremehkan mereka . 

" Ahai...muridnya si perempuan selendang merah yang terkenal itu ? " Hek San Kui sedikit terkejut dan memiringkan kepalanya sambil menatap tajam kepada Cheng Yi Lin. Tampaknya lelaki pendek itu berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya .

" Benar , paman guru..dan aku menginginkan benda yang ada dilehernya itu !" angguk Tan Shien Li dengan tatapan mata mendelik . 

" Ah , itu cuma sehelai tali dengan benang emas. Untuk apa engkau meributkan benda itu , apakah emas permata yang engkau miliki itu masih kurang ?" tandas Hek San Kui dengan santai . Namun benaknya berpikir keras , murid adik seperguruannya itu tidak akan mengincar sesuatu kalau benda itu tidak berharga. Tentunya seutas tali dengan benang emas berkeredepan itu merupakan benda berharga sehingga mata Tan Shien Li yang amat fasih dengan benda pusaka itu mengincarnya . Namun Hek San Kui tidak menemukan sesuatu yang aneh .

" Baiklah , akan kuambilkan untukmu..." ujar Hek San Kui Jau Tak Gai dengan slengeknya dia mengulurkan tangannya ke arah Cheng Yi Lin padahal jaraknya masih kira-kira tiga depa jauhnya .

Cheng Yi Lin telah sedari tadi membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Hek San Kui dan sama sekali tidak meremehkan lelaki pendek tanpa baju itu. Tan Shien Li sendiri amat kagum karna dengan jarak yang masih tiga depa itu , tangan kanan paman gurunya itu seperti ular menyambar dengan ganasnya ke arah leher Cheng Yi Lin .

Walaupun pengalamannya masih jauh dalam dunia persilatan , kepandaian Cheng Yi Lin kini setara dengan gurunya. Bahkan mungkin melebihi gurunya karna tekadnya yang membara untuk membalas dendam atas prahara yang menimpa keluarganya dulu . Menghadapi serangan Hek San Kui tersebut , Cheng Yi Lin menjentikkan jari telunjuknya sambil memiringkan tubuhnya dari hempasan tenaga dalam lelaki pendek itu . Itulah salah satu jurus ilmu It Yang Cie, jurus jari sakti menembus awan . Hek San Kui sangat terkejut dan berusaha menarik tangannya dari kejaran jari Cheng Yi Lin . Dia telah meremehkan perempuan itu , ternyata kepandaiannya tidaklah berada dibawah Ang I Nio Cu yang dulu pernah dihadapinya . Bukanlah Hek San Kui namanya kalau dia langsung kalah dalam satu jurus saja apalagi menghadapi seorang perempuan muda. Dengan cerdiknya dia merangkum jarinya yang terbuka itu menjadi kepalan dan menumbukkannya kearah wajah Cheng Yi Lin .

Dan tak kalah lincahnya , Cheng Yi Lin tidak menarik tangan kanannya yang terus menyerang itu . Dia hanya mengubah sasarannya pada siku tangan Hek San Kui sedangkan kepalan tangan kirinya terbuka menyambut tinju Hek San Kui tersebut dengan sebuah jurus dari Im Yang Kun Hoat miliknya, menekan bumi mematahkan tiang langit . Sungguh luar biasa bahwa dalam usianya yang masih sangat muda itu Cheng Yi Lin telah berhasil memadukan ilmu Im Yang Kun Hoat dengan ilmu It Yang Cie dalam satu serangan balik .

Hek San Kui menyeringai dan begitu percaya diri dengan kemampuannya. Bahkan dia meremehkan tenaga dalam murid si perempuan selendang merah itu. Hek San Kui amat yakin bahwa dia akan segera bisa merobohkan perempuan muda itu dan merebut benda dilehernya tersebut. Namun kesombongan Hek San Kui itu harus dibayarnya dengan mahal . Kepalan tangannya itu seperti memukul kapas dan segala keganasannya hilang sedangkan jari telunjuk Cheng Yi Lin dengan tepat mengenai urat disiku tangan kanan Hek San Kui . 

" Arrrgggghhh..." tanpa malu-malu lagi Hek San Kui berteriak dan membanting badannya ke samping dan berguling-guling di kubangan air tanah merah. Tangan kanannya terasa lumpuh dan nyaris pula terkena tendangan kaki perempuan itu kalau saja dia tidak segera membanting badannya .

Hek San Kui Jau Tak Gai meringis. Kemarahannya memuncak . Kesalahannya menilai kepandaian silat perempuan muda itu telah mempermalukannya. Sedangkan Tan Shien Li yang melihat betapa Cheng Yi Lin telah mematahkan serangan paman gurunya tanpa banyak bergerak itu , langsung memukul ke arah belakang kepala Yi Lin . Namun serangannya terhenti karna Ni Sari Ratna Gandulecapung dan Sekar Kusumadewi telah menyerangnya . Hal itu menambah ruwetnya pondok itu dan Tan Shien Li segera melompat keluar agar lebih leluasa bergerak.

Ni Sari Ratna Gandulecapung dan Sekar Kusumadewi segera pula mengejar keluar. Pertempuran tidak lagi bisa dielakkan dan keputusan harus diambil kalau tidak ingin menjadi sasaran kesulitan . Anggota marga Tan dikenal tidak pernah membiarkan sasaran mereka lolos sehingga kekejaman keluarga itu sangatlah menakutkan bagi orang kebanyakan .

Karna kehilangan gelang-gelang rantainya , Ni Sari Ratna Gandulecapung terpaksa menggunakan sebuah cambuk biasa untuk menyerang . Namun tidaklah bisa dipandang remeh karna hempasan cambuk itu mengandung ilmu lima racun berbisa andalan Nyi Pandera Wirogeni , gurunya . Dengan nekad Ni Sari Ratna Gandulecapung menyerang Tan Shien Li yang tampak sedikit berhati-hati dengan hawa beracun yang melesat bersama cambuk itu . Pedang lenturnya segera mencelat dan meliuk-liuk menahan serangan tersebut .
Sedangkan Sekar Kusumadewi sendiri tidak tinggal diam. Rambutnya yang panjang dan terkepang itu menyambar dengan ganasnya kearah Tan Shien Li . Ujung kepang rambut itu ternyata disisipi dengan mata anak panah dari baja hitam yang teramat keras dan mampu menahan senjata pusaka. Dengan liukan badan dan kepalanya , kepangan rambut Sekar Kusumadewi menyambar ganas dari segala arah dan saling bersambungan dengan cambuk Ni Sari Ratna Gandulecapung , murid Nyi Pandera Wirogeni .

Tan Shien Li sedikit kerepotan menghadapi serangan mereka namun bukan berarti dia kalah pandai . Anak kesayangan dari keluarga marga Tan di Simongan itu sangat percaya diri dan sangat pandai menyerap ilmu dari guru utamanya Pek Mau Siang Cu maupun dari guru-guru silat terpandai di bentangan pantai utara.
Pedang lenturnya meliuk-liuk dan membentuk bayangan yang membentur setiap serangan cambuk dan kepangan rambut dengan mata anak panah baja hitam itu.

Sedangkan Hek San Kui yang telah pulih dari rasa terkejutnya itu, tampak menatap dengan tajam perempuan muda didepannya itu. Cheng Yi Lin sadar bahwa dia tidak bisa terus berada di dalam pondok kalau ingin menghadapi lelaki pendek itu. Kini dia telah berhadapan dengan Hek San Kui Jau Tak Gai disisi lain pondok tersebut. Hujan masih terus turun dengan derasnya dan tak peduli dengan pertempuran dikedua sisi pondok reyot itu.

" Hebat...hebat...ternyata kepandaian murid si perempuan selendang merah itu tidaklah bisa diremehkan..." angguk Hek San Kui sambil menahan malu karna dalam jurus pertama saja dia harus menerima kekalahan. Tidak , itu karna aku meremehkannya , bentak hati kecilnya penuh amarah .

" Pak tua , aku tidak bermusuhan denganmu..kenapa masih terus menyerang ?" tegur Cheng Yi Lin masih enggan untuk meladeni Hek San Kui .

" Huahahahahahaha...kalau kau tidak ingin bertempur , serahkan saja benda yang ada di lehermu itu maka urusan kita akan selesai. Kenal atau tidak kenal, itu bukan masalah..keponakanku itu menginginkan benda tersebut..!" jawab Hek San Kui dengan pongahnya.

" Kenapa harus memaksa dengan barang milik orang lain ?" tanya Cheng Yi Lin tanpa pura-pura dan karna memang pengalamannya amatlah minim dengan dunia luar selain gurunya dan pondok kecil mereka ditengah hutan larangan itu.

Cheng Yi Lin perlahan-lahan melepaskan Cemeti Lengkingan Naga itu dari lehernya dan tampaklah sinar berkeredepan memantul indah dalam curahan air hujan. 

Hek San Kui semakin percaya dengan pandangan murid keponakannya itu bahwa benda tersebut sangatlah berharga. Hek San Kui menatap tali sedepa yang berwarna kemerahan dengan benang-benang emas yang terikat menjadi satu ditangan Cheng Yi Lin itu dengan bernapsu. Namun Hek San Kui juga tidak mau bersikap ceroboh seperti tadi .

" hemmm...teryata itu sebuah cambuk pengganti selendang merah milik gurumu itu ? " tanya Hek San Kui Jau Tak Gai memancing .

" Ini adalah Cemeti Lengkingan Naga yang dibuatkan oleh guruku.." jawab Cheng Yi Lin dengan jujur dan polos . Tangan kanannya yang memegang Cemeti Lengkingan Naga itu bergerak perlahan dan cemeti itu melesat seperti bernyawa.

" Zziiiiinnnnnnnnnggggggggg....." terdengar sebuah lengkingan yang menyayat hati dan menggetarkan jiwa yang mendengarnya.

Tak ayal hal itu membuat Hek San Kui merinding dan melangkah mundur dengan wajah sedikit ngeri. Selama puluhan tahun malang melintang dalam dunia persilatan , baru kali inilah dia melihat sebuah senjata yang bisa mengeluarkan lengkingan seperti seekor naga yang marah. Bukan hanya itu saja lengkingan tersebut sangat hebat sehingga jantungnya berdetak lebih cepat beberapa kali dari biasanya.

Demikian pula halnya dengan Tan Shien Li . Lengkingan cemeti itu menggagalkan serangannya terhadap lawan-lawannya . Ternyata kibasan tadi bukanlah sebuah kebetulan . Cheng Yi Lin melihat Ni Sari Ratna Gandulecapung dan Sekar Kusumadewi yang baru saja dikenalnya itu terdesak oleh kehebatan pedang lentur milik Tan Shien Li . Sambaran tenaga dari Cemeti Lengkingan Naga itu telah membentur kilatan pedang lentur milik Tan Shien Li sekalipun jaraknya cukup jauh , yaitu delapan depa !

Tentu saja hal itu membuat Tan Shien Li terkejut dan hasratnya untuk memiliki pusaka ditangan perempuan muda itu semakin menyesakkan dadanya. Untuk itu dia harus menekan dan mengalahkan kedua lawannya secepat mungkin agar bisa bergabung dengan paman gurunya untuk merebut pusaka tersebut .

Hek San Kui sendiri kini tidak lagi bersikap sungkan. Entah dari mana datangnya tiba-tiba saja ditangannya telah memegang sepasang sumpit besar . Sumpit itu berwarna hitam kekuningan dengan panjang kurang lebih setengah depa. Besarnya kira-kira satu jempol dan memang sumpit itu terbuat dari masakan baja hitam dan batu meteor dengan batu emas . Perlu tiga tahun lamanya untuk membuat ketiga bahan itu menyatu dalam bara yang tak pernah padam dan darah tujuh orang perawan pula untuk mengikatnya. Sehingga sumpit itu dinamakan Sepasang Sumpit Iblis Tujuh Perawan . Dulunya sumpit itu milik seorang pertapa sakti dipegunungan himalaya yang kemudian hilang dalam perebutan di dunia persilatan ratusan tahun yang silam . Entah bagaimana Hek San Kui Jau Tak Gai kemudian mendapatkannya dan tak satupun yang tahu mengenai ceritanya.

Cheng Yi Lin sendiri dapat merasakan hawa dingin yang menyeramkan ketika sepasang sumpit hitam kekuningan itu tiba-tiba ada ditangan Hek San Kui. Entah bagaimana kehebatannya namun Cheng Yi Lin tetap berhati-hati. Hujan turun semakin deras dan sedikit mengusik pandangannya . Hek San Kui tidak menanti kesempatan lagi dan langsung menyerang dengan Sepasang Sumpit Iblis Tujuh Perawan ditangannya itu . Sepasang sumpit itu meluncur deras membentuk lingkaran-lingkaran kecil dan bergelombang menuju belasan urat di tubuh Cheng Yi Lin dengan ganasnya . Cheng Yi Lin tak bergerak dari pijakannya . Tangan kanan yang memegang Cemeti Lengkingan Naga itu bergerak lincah sehingga bayangan merah keemasan cemeti itu menutupi tubuhnya dan mementahkan serangan Hek San Kui . Namun akibat benturan penuh tenaga dalam itu membuat tubuh Cheng Yi Lin bergetar keras dan cepat dimentahkannya dengan tarikan napas dari ilmu It Yang Cie milik gurunya. 

Hek San Kui sendiri kaget bukan kepalang . Benturan pada Sepasang Sumpit Iblis Tujuh Perawan itu nyaris membuat tangannya patah . Hawa panas dan dingin menyerangnya lewat kedua sumpit itu . Hek San Kui mundur selangkah dan dengan tenaga dalamnya yang hebat , dia dengan cepat mengusir hawa serangan dari Cemeti Lengkingan Naga itu. Walaupun bagaimana hebatnya pusaka itu , Hek San Kui Jau Tak Gai yakin bahwa pengalamannya dan kematangannya akan dapat mengalahkan perempuan muda tersebut. Kalau tidak memiliki sejuta kelicikan tentunya Hek San Kui ( Hantu Gunung Hitam ) Jau Tak Gai , tidak akan hidup selama itu dan malang melintang dalam dunia persilatan.

Sedangkan pertarungan Tan Shien Li kembali terjadi ketika paman gurunya menyerang Cheng Yi Lin. Memanfaatkan kesempatan itu , Tan Shien Li melancarkan serangan bertubi-tubi dengan pedang lenturnya. Keruan saja Ni Sari Ratna Gandulecapung terdesak hebat dan cambuknya sudah hancur berkeping-keping dihantam pedang lentur itu. Bahkan sebuah tendangan Tan Shien Li mendarat dengan telak didadanya. Rasa sesak bergemuruh dan dari mulutnya merembes darah segar . Dia telah mengalami luka dalam , sekali lagi Ni Sari Ratna Gandulecapung , mengeluh dengan kekalahannya dan kali ini dengan luka dalam pula . Sekar Kusumadewi juga tak kalah repotnya meladeni serbuan pedang lentur yang meledak-ledak tiada hentinya itu .
Bahkan mata anak panah yang ada diujung kepangnya itu telah somplak ketika berbenturan dengan pedang lentur milik Tan Shien Li . Ditambah lagi dengan kekuatan tenaga dalam anggota keluarga marga Tan itu jauh berada diatasnya. Tan Shien Li makin gencar menekan Sekar Kusumadewi yang akhirnya membuahkan hasil . Setelah kerepotan menahan bayangan pedang lentur yang menyerangnya dari segala arah , Sekar Kusumadewi terjengkang dalam kubangan air akibat sebuah tendangan menyamping yang tepat mengenai pinggulnya. Sekar Kusumadewi berusaha mengelak namun tendangan itu terlalu keras dan cepat untuk ditahan hingga akhirnya ia harus rela menikmati kubangan air dibelakangnya itu.

Tan Shien Li yang tampak bernapsu langsung melesat ke arah Cheng Yi Lin dan menyerangnya dengan ganas dengan kibasan pedang lenturnya yang bercuitan. Tan Shien Li tak lagi main-main dan memandang rendah perempuan yang bernama Cheng Yi Lin itu. Segera saja dia melontarkan ilmu pedang kebanggaan gurunya Pek Mau Siang Cu yaitu ilmu pedang bayangan seribu bidadari yang berkelebatan luar biasa cepatnya . Pedang lentur itu mengurung Cheng Yi Lin dari segala arah dan hembusan tenaga dalam yang terkandung didalamnya bagaikan angin puyuh yang coba mendobrak Cemeti Lengkingan Naga milik Cheng Yi Lin.

Sekali lagi Cheng Yi Lin tidak kehilangan kepercayaan dirinya. Melihat datangnya serangan pedang lentur yang bercuitan mengurungnya itu , Cheng Yi Lin menyapu genangan air didekat kaki kirinya dan ratusan butir air kemerahan itu menyambar serbuan bayangan pedang lentur Tan Shien Li . Tak hanya sampai disitu , Cheng Yi Lin mengibas Cemeti Lengkingan Naga ditangannya mengincar kedua lutut Tan Shien Li !

Tentu saja Tan Shien Li yang kaya pengalaman dalam dunia persilatan itu segera mengenal bahaya yang sedang menantinya. Dengan satu hentakan tubuhnya yang sedang melayang itu berputar dengan indahnya menghindari ratusan butir air yang menghantam dirinya sekalipun tidak luput semuanya. Tan Shien Li dapat merasakan sebagian tubuhnya seperti dihantam puluhan jarum namun dia merasa beruntung dapat menghindari Cemeti Lengkingan Naga dari lututnya. Dengan gemas Tan Shien Li melontarkan jarum-jarum beracunnya ke arah Cheng Yi lin dan menggerakkan pedang lenturnya dengan satu tebasan memanjang. Itulah salah jurus ilmu pedang bayangan seribu bidadari , yaitu pedang berdarah bidadari patah hati . Seketika hujan seperti terbelah dan desauan angin menyatu meluruk ke arah Cheng Yi Lin .

Sedangkan Hek San Kui juga ikut menyerang tanpa malu-malu lagi mengeroyok seorang perempuan muda yang layak menjadi anaknya itu. Sepasang Sumpit Iblis Tujuh Perawan itu meluncur deras dan mengincar beberapa titik lemah di tubuh Cheng Yi Lin dengan membiaskan hawa dingin yang menyeramkan. 

Cheng Yi Lin terkesiap dengan datangnya serangan dari kedua orang itu dan pikirannya cepat bertindak. Cemeti Lengkingan Naga itu berputar dan meliuk-liuk menimbulkan bayangan merah keemasan dalam ilmu selendang merah pencabut nyawa ajaran gurunya. Sedangkan tangan kirinya melancarkan pukulan dari ilmu It Yang Cie ( ilmu jari sakti ) yang penuh dengan tenaga dalam Im Yang Kun Hoat . Pertempuran seru segera terjadi dan dalam puluhan jurus Cheng Yi Lin masih dapat mengimbangi keduanya dengan baik sekalipun berkali-kali sempat terdesak .

Namun pengalaman dan sifat manusia yang terbentuk didalamnya, memberikan banyak keuntungan bagi kedua lawan Cheng Yi Lin. Sekalipun ilmu silat dan tenaga dalam Cheng Yi Lin mampu mengimbangi mereka tapi tidak dalam hal taktik. Cheng Yi Lin masih hijau dalam dunia persilatan , sedangkan Tan Shien Li sudah malang melintang disepanjang pantai utara Simongan. Belum lagi Hek San Kui Jau Tak Gai yang kenyang makan asam garam dunia persilatan selama puluhan tahun . Hanya saja Cheng Yi Li beruntung mendapat tambahan tenaga dalam dari gurunya sebelum meninggal dan ampuhnya Cemeti Lengkingan Naga itu sangatlah berperan dalam mengimbangi kedua lawannya yang tak segan menggunakan berbagai kelicikan dalam bertempur .

Ni Sari Ratna Gandulecapung dan Sekar Kusumadewi hanya bisa menyaksikan pertempuran itu tanpa bisa membantu . Keduanya sadar bahwa kepandaian mereka hanya akan mencelakakan diri sendiri dan juga Cheng Yi Lin. Keduanya saling pandang dengan perasaan cemas dan berharap Cheng Yi Lin bisa bertahan. Ni Sari Ratna Gandulecapung bahkan cemas dengan luka dalam yang dideritanya itu sedangkan Sekar Kusumadewi merasakan pinggungnya memar akibat tendangan Tan Shien Li yang amat ganas itu.

Cheng Yi Lin Sendiri nyaris tak bisa bernapas dengan lega. Tan Shien Li amat bernapsu dan terus mendesak dengan ilmu pedang bayangan seribu bidadari yang sangat kejam itu . Yang amat mengganggu Cheng Yi Lin adalah hawa magis yang mengiringi setiap serangan Sepasang Sumpit Iblis Tujuh Perawan milik Hek San Kui Jau Tak Gai ! Pandangan mata Cheng Yi Lin mulai berkunang dan napasnya terasa sesak .

Ketika kesadarannya nyaris hilang itulah , tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan menyadarkannya . Suara itu bening dan lembut namun tenaga khikang ( tenaga dalam murni ) yang mengiringi suara itu seakan mengembalikan kesadaran dan kekuatannya.

" Siancay...Siancay....hmmm...sungguh tak adil dua orang tokoh persilatan mengeroyok seorang perempuan muda....siancay...siancay...dunia ini penuh dengan kedustaan dan nista...."

Suara itu seketika melemparkan Hek San Kui tiga langka kebelakang dan pedang lentur Tan Shien Li terpental . Tan Shien Li menjerit seketika karna tangan yang memegang pedang lentur terasa melepuh.

Sebelum Hek San Kui dan Tan Shien Li tersadar dari hentakan khikang itu, sebuah bayangan melesat dan seorang perempuan tua yang berumur delapan puluhan telah berdiri diantara Cheng Yi Lin dan kedua lawannya tadi . Sekalipun umurnya sudah tua namun wajahnya masih tampak segar dan pakaiannya sangat sederhana yang masih mengingatkan pakaian seorang pesilat dari daratan tiongkok. Yang sangat aneh adalah tak satupun derai hujan yang masih turun dengan deras itu membasahi pakaiannya.

Hek San Kui Jau Tak Gai menyeringai dengan wajah pucat pasi dan dalam satu lentingan dia segera menarik tangan murid keponakannya itu melarikan diri.

Tak ada bantahan dari Tan Shien Li yang masih terguncang itu dan hanya mandah saja mengikuti lari sang paman guru yang melesat tanpa berleha-leha lagi.

" Lain kesempatan kita akan bertemu lagi Cui-Beng-Nio-Cu ( Wanita Iblis Pencabut Nyawa )..." gema suara Hek San Kui Jau Tak Gai masih terdengar pongah dalam pelariannya .

" Siancay...siancay...jagalah dirimu baik-baik Hek San Kui Jau Tak Gai.." suara perempuan tua itu masih terdengar dengan nada lembut namun gemanya membuat Hek San Kui semakin cepat mengerahkan ginkangnya (ilmu meringankan tubuh) menjauhi tempat pertempuran tadi.

Sedangkan Cheng Yi Lin tampak terhuyung dan tubuhnya terkulai dalam derasnya hujan. Namun dengan satu sentakan perempuan tua itu menyanggah tubuh Cheng Yi Lin dan membopong perempuan muda itu . Pertempuran yang berat sebelah itu telah menguras tenaga Yi Lin , ditambah lagi dengan hawa magis yang menyeramkan dari Sepasang Sumpit Iblis Tujuh Perawan dari Hek San Kui . Cheng Yi Lin juga tak luput dari beberapa jarum beracun milik Tan Shien Li yang mengenai tubuhnya.

Cheng Yi Lin kehilangan kesadarannya dalam pelukan si perempuan tua yang disebut Cui-Beng-Nio-Cu ( Wanita Iblis Pencabut Nyawa ) oleh Hek San Kui Jau Tak Gai yang juga lari terbirit-birit ketika mengenali perempuan itu.

Cui-Beng-Nio-Cu melambaikan tangannya kearah bungkusan yang tadi dibawa oleh Cheng Yi Lin dan bungkusan itu dalam sekejap melayang kearahnya. Tanpa mengacuhkan Ni Sari Ratna Gandulecapung dan Sekar Kusumadewi yang tampak bengong , perempuan tua yang dipanggil Cui-Beng-Nio-Cu itu segera melesat dengan ginkangnya dan hilang dari pandangan menjadi sebuah titik dikejauhan.

Hujan masih terus tercurah dan membersihkan sisa pertempuran tadi tanpa bekas serta kedua perempuan yang tampak melongo menyaksikan kehebatan ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan oleh perempuan tua itu tanpa mengerti apa arti nama julukan Cui-Beng-Nio-Cu tersebut...


( see ya in the next story...)